Kita bercerita setiap hari, tentang ini dan itu, tentang segala hal. Sebegitu seringnya sampai aku mengetahui semua tentangmu, juga sebaliknya. Tetapi kau adalah sesuatu di dalam cermin yang tidak bisa kusentuh. Dan aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Seseorang telah kau izinkan masuk ke dalam sana, menemanimu. Gerak-gerikmu yang mencurigakan membuatku takut. Benar saja, kau semakin menjauh dari cerminku. Tidakkah kau ingin melihatku sekali lagi sebelum kau benar-benar pergi? Aku belum dan tidak ingin siap. Aku sebegitu inginnya memelukmu, merasakan genggaman tanganmu. Tetapi kau adalah sesuatu di dalam cermin yang tidak bisa kusentuh. Dan tak bisa kujadikan nyata sekalipun cermin itu telah kupecahkan. Membuatku menyesal karena kelak aku semakin mustahil melihatmu. Tidakkah kau ingin melihatku seperti aku ingin melihatmu? Sebegitu inginnya aku sampai tenagaku habis untuk menangis. Sebegitu rengsanya aku sampai pecahan-pecahan cermin itu kubiarkan melukai kakiku. Dan mere...
— 𝒃𝒆𝒓𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒍𝒆𝒘𝒂𝒕 𝒂𝒌𝒔𝒂𝒓𝒂