Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Percayakah Kau Padaku?

Tahukah kamu tentang kisah cinta Rama dan Shinta yang ternyata berakhir tak bahagia? Aku baru tahu sekitar setahun lalu. Seperti yang dikisahkan Paman Tere-Liye dalam novelnya. Dia tidak mengangkat manisnya kisah cinta Rama-Shinta seperti yang dielukan banyak orang. Tetapi dia memulainya setelah Rama berhasil merebut kembali Shinta dari Rahwana. Cerita mahsyur itu, setidaknya kalian pernah mendengar. Dari bisik-bisik kotor rakyatnya, Rama khawatir akan Shinta yang berbulan-bulan tinggal di Alengka, kerajaan Rahwana. Dia menduga-duga banyak hal. Tetapi ketahuilah, Rama. Dusta  takkan  bercampur  dengan  jujur Hina  takkan  bercampur  dengan  mulia Oh, minyak takkan pernah menyatu dengan air Kebaikan  takkan  bercampur  dengan  keburukan Kesetiaan  takkan  bercampur  dengan  pengkhianatan Oh, Dewi Shinta takkan pernah menyatu dengan gadis hina Maka diadakanlah ujian kesucian dan Dewi Shinta lolos d...

Aku dan Orbitmu

Izinkan aku berpindah ke orbitmu agar lintasan kita sama. Izinkan aku menyapamu, saat kita bertemu dalam garis yang sama. Tetapi, bolehkah? Maksudnya, apakah kau akan meresponsku? Seperti saat aku menyapamu, akankah kau membalasku? Atau hanya tersenyum sambil tak berhenti berotasi pada porosmu itu? Kita mengelilingi pusat yang sama. Hanya lintasan kita yang berbeda. Lalu jika aku ingin berpindah ke orbitmu, apa kau mengizinkannya? Mungkinkah kita berbagi lintasan bersama? Ah, tapi tidak jadi. Kau sepertinya tidak sudi. Lagipula setelah dipikir-pikir lagi, ada baiknya jika aku tetap disini. Menunggu banyak waktu untuk segaris denganmu lagi. Daripada aku pindah ke lintasanmu, yang mungkin sebelum aku sampai ke situ, diriku akan musnah terlebih dahulu, karena penguasa semesta yang tidak memberi restu. Apa kau bisa membayangkan betapa mengerikannya untukku, hanya agar bisa seorbit denganmu? n.a.

Obat Luka

Bicara tentang luka, siapa yang tidak pernah punya luka? Banyak jalan bagi kita untuk mendapatkan luka. Meski bukan berarti kita menginginkannya. Bicara tentang luka, semua luka sejatinya menyakitkan. Baik terasa di awal, tengah, maupun akhir, semuanya sama bagi para penderita. Bicara tentang luka, aku selalu menemui seorang teman untuk membahas para luka. Karena dia adalah ahlinya menangani mereka. "Lukaku terkelupas." Ucapku mengawali pembicaraan. "Lagi? Untuk yang ke berapa kali?" Ujarnya sedikit khawatir. Aku menaikkan bahu, tidak kuhitung. "Kenapa bisa terkelupas lagi?" "Mungkin aku terlalu mengkhawatirkannya. Sehingga tanpa kusadari aku sendiri mendekati luka itu." "Jadi mulai sekarang, menjauhlah." Ucap temanku sambil menghirup aroma kopinya. "Sudah kucoba. Tapi bagaimana jika bekasnya tidak hilang?" Dia diam sejenak, lantas berdiri dari kursinya. "Kau harus menunggu berjalannya waktu sampai kau...

Kerudung Hitam

Aku memperhatikannya Sorot mata yang tak biasa Ribuan pilu dari sepasang bola mata Tetapi semoga hanya prasangka Jika pilu hanya prasangka Rindu pasti bukan hanya duga Jika sedih hanya sementara Semoga bahagia hadir selamanya Tetapi bagaimanapun, pilu akan hadir Sedih akan mampir Sekalipun hanya sekilat es mencair Dan aku memilih untuk tidak menyingkir Karena kau disitu, aku tahu Kenapa tak kau perlihatkan dirimu? Wanita yang biasa kau panggil ibu itu sangat merindukanmu Ia mengusap muka berkali-kali Meski bibirnya mengikuti Tetapi hatinya meyakini Bahwa kau masih disini Wanita itu memalingkan muka dari keramainan Dari balik kerudung hitam, ia menyeka air mata kerinduan yang meluncur tak tertahankan Yang tanpa sadar juga kulakukan n.a . 05 Desember 2015

Menipu Diri

Pagi ini aku mengirim e-mail kepada seseorang. Kuno. Begitu kata teman-temanku. Yah, aku sedikit menyesal tetapi juga lega karena tebakanku ternyata benar. Kuberi tahu satu hal. Kejujuran tidak selalu menyenangkan. Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com> Jangan mengusikku lagi. Boi <adore92@yahoo.com> Aku sungguh minta maaf. Hanya saja aku merasa tidak enak. Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com> Jangan meminta maaf. Lagipula kau tidak sepenuhnya salah. Boi <adore92@yahoo.com> Maafkan aku. Tapi aku tidak bermaksud begitu. Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com> Ah ternyata aku salah membaca kodemu. Atau kau yang terlalu sering membual? Boi <adore92@yahoo.com> Kata siapa? Hm, sepertinya kau salah sangka. Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com> Apa kau menyukaiku? Boi <adore92@yahoo.com> Tentu saja. Ah, kerja paruh waktu sangat menyita waktuku, akhir-akhir ini jadi sibuk sekali. Oh iya, pagi. Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com> Pagi. Kau...

Karena Kau Temanku

Ada satu hal yang sangat ingin dilakukan pemuda bernama Arif ini. Ia ingin melihat dunia. Tapi tidak sendirian. Arif ingin mengajak serta sahabat sekaligus teman sepermainannya yang istimewa itu. Menurut orang-orang di kampungnya, Bono adalah pemuda bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa dengan benar, selain memancing. Tidak ada yang mempercayainya, bahkan kedua adiknya kandungnya sendiri, selain ibunya dan Arif. Bono hanya sekolah sampai kelas dua SD. Kelas dua itu pun ia tidak tamat karena kesehatan mentalnya yang semakin menurun.               Tapi orang-orang mengira Arif lebih bodoh lagi karena ia mau berteman dengan orang seperti Bono. Bagi Arif, Bono itu istimewa dalam artian lain, Bono itu inspirasinya, Bono juga yang telah mewarnai hari-harinya, mengajaknya bangkit secara tidak langsung saat ia terpuruk karena ditinggal menikah gadis kampung sebelah yang diam-diam ia sukai selama tiga tahun. Ar...

Elegi Tak Berkesudahan

Mengenalmu seperti daun yang disinggahi embun Daun tidak bisa bertemu embun yang sama sekalipun dia sangat menginginkannya Dirimu adalah embun itu Dan aku daunnya Daun yang terlalu mencintai mentari Tak peduli dengan embun yang hidupnya tak sampai sehari Tapi setelah itu merindukannya setengah mati Daun itu paham pada akhirnya Meskipun ribuan embun yang singgah pada tubuhnya Ia tak bisa bertemu embun yang sama sekalipun dia sangat menginginkannya Menciptakan elegi tak berkesudahan selayaknya hari ini Kira-kira seperti hal penting yang pergi ke planet yang tak kauketahui yang berjarak ribuan cahaya dari bumi seolah tak pernah kembali menjadikan hidup semenakutkan mati 29 November 2015 Dari adikmu, yang tak tahu diri. P.s.: Seharusnya hari ini, tepat setahun yang lalu, entah bagaimana caranya, aku bertemu denganmu untuk terakhir kali.