Langsung ke konten utama

Menipu Diri

Pagi ini aku mengirim e-mail kepada seseorang.
Kuno. Begitu kata teman-temanku.
Yah, aku sedikit menyesal tetapi juga lega karena tebakanku ternyata benar. Kuberi tahu satu hal. Kejujuran tidak selalu menyenangkan.

Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com>
Jangan mengusikku lagi.

Boi <adore92@yahoo.com>
Aku sungguh minta maaf. Hanya saja aku merasa tidak enak.

Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com>
Jangan meminta maaf. Lagipula kau tidak sepenuhnya salah.

Boi <adore92@yahoo.com>
Maafkan aku. Tapi aku tidak bermaksud begitu.

Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com>
Ah ternyata aku salah membaca kodemu. Atau kau yang terlalu sering membual?

Boi <adore92@yahoo.com>
Kata siapa?
Hm, sepertinya kau salah sangka.

Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com>
Apa kau menyukaiku?

Boi <adore92@yahoo.com>
Tentu saja.
Ah, kerja paruh waktu sangat menyita waktuku, akhir-akhir ini jadi sibuk sekali. Oh iya, pagi.

Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com>
Pagi. Kau sesibuk yang kukira.

Membacanya dari atas ternyata lebih mengasikkan. Bukankah juga lebih baik begitu?
Ha-ha. Betapa mirisnya aku sehingga harus menipu diri sendiri.

Ah, apa kalian benar-benar tahu caranya membaca e-mail?
Kalian harus membacanya dari bawah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021