dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar,
ia menatap kaca jendela dengan nanar.
baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan yang samar.
ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar.
namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar,
berdengung di telinganya dengan gahar
dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar.
celakanya, bising itu beralih ke kepalanya.
menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota,
meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya.
alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih,
ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih.
memeluk segala pilu tanpa pamrih,
sembari tersenyum dengan matanya yang sedih.
n.a
2021
Komentar
Posting Komentar