Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Hukum Alam

sudah hukum alam kata orang-orang. hal yang seperti ini akan terus berulang. jadi yang akan datang biar datang. dan yang pergi jangan kauhadang. tetapi persetan dengan hukum tadi. aku bukan benda mati. tidak seorang pun yang suka dipaksa berhenti. ketika melakukan hal yang disukai. bukankah kamu tahu pasti. bahwa aku benci solusi ini. sebab rinduku tidak akan tanggal. meski aku mengucap selamat tinggal. n.a. Desember, 2016

Bila

Bila tiba-tiba aku diam. Bukan berarti kupingku tidak dengar. Otakku sedang memikirkan jawaban. Bagaimana supaya tidak terdengar mengecewakan. Bila tiba-tiba tawaku terhenti. Bukan berarti bahagiaku seketika hilang ditelan bumi. Itu karena aku tidak ingin berlanjut menertawakan diri sendiri. Kemudian meratapi nasib diri. Bila di tengah tawaku keluar air mata. Biar saja, meski terlihat gila. Karena seperti sesuatu yang tertimbun kemudian perlahan dibuka, mengalir lega. Bila aku jatuh kemudian. Memang kepada-Nya aku meminta bantuan. Bersimpuh, mengucap beribu ampunan dan permohonan. Meminta petunjuk bagaimana caraku berjalan tanpa keseimbangan. Namun bila jiwaku benar-benar rapuh. Bercerita kepadamu, aku butuh. Aku bisa mendengar meski jauh. Ingat kalau aku punya indera ke-tujuh? Bila aku mulai berdiri. Tak akan kulepaskan itu jemari. Tetap kugenggam dalam hari-hari. Sembari memasang senyum sebersinar mentari. n.a. September, 2016.

Ingatan

siang ini cuaca menyengat. lalu tiba-tiba aku teringat. ingatan yang tumpah seperti hujan. yang memang seringkali datang tanpa undangan. siang ini masih menyengat. lalu tiba-tiba aku teringat. kamu yang datang bersimbah keringat. kemudian kita hanya bercakap beberapa kalimat. siang ini semakin menyengat. karena aku yang tiba-tiba teringat. tentang ini dan itu yang ada pada kamu. tentang bagaimana aku dan kamu dulu. seharusnya kubuang saja ingatan itu. aku benci bahwa aku pernah sebahagia itu di dekatmu. dan aku rindu. bagaimana jika kita bertemu? n.a. P.s.: dikhususkan kepada temanku yang sedang berdamai dengan rindu.

Kekasih Sang Malam

Dia terduduk di lantai pualam. Bibirnya bungkam. Karena ia sedang menangis dalam diam. Kejahatan apa yang baru saja dia lakukan? Dialah penjahat tercerdik di seluruh kota. Hanya orang-orang tertentu yang dapat menemuinya. Dialah orang yang paling diburu. Sebut julukannya, maka orang-orang akan sembunyi di balik pintu. Dialah penjahat yang disebut-sebut sebagai jelmaan hantu. Identitas aslinya tidak ada yang tahu. Tapi lihatlah malam ini. Dengan ringan ia menyerahkan diri. Siapa orang ini? Mengapa dia mengaku sebagai penjahat tercerdik abad ini? Berita ini akan segera terdengar di mana-mana esok hari. Identitas orang paling diburu telah diketahui . Dia seorang mahasiswi berprestasi. Yang tidak disangka memiliki hobi keji. Begitulah headline berita pagi ini. Dia telah berada di balik jeruji besi. Masa bodo dengan ancaman hukuman mati, masih terngiang kejadian malam tadi. Saat dia bergegas pulang kemudian menyerahkan diri. Orang yang semalam menjadi sasaran berikutn...

Jawabanku

Kau pernah bertanya padaku. Apakah aku akan rindu? Sebenarnya kusudah punya jawaban sedari dulu. Tapi aku pura-pura saja tidak tahu. Sekarang akan kuberi tahu. Meski jawabanku tetap sama seperti hari itu. Ya, tentu. - Juli, 2016 Sedang rindu.

Kisah Ulat

Boleh kubilang bahwa kita ini masih seekor ulat. Yang menjadi makhluk terbawah dalam rantai makanan. Yang berjalan merangkak kemanapun bepergian. Yang kecil dan terlalu sering dipandang menjijikkan. Tapi boleh juga kubilang bahwa ada waktunya kita akan lebih baik dari ulat. Yang meski tidak juga menjadi makhluk teratas dalam rantai makanan. Yang meski tidak lantas menjadi besar. Setidaknya tidak lagi dipandang menjijikkan. Kawanku, secara alami kau telah masuk ke dalam buku ceritaku. Menemaniku dalam serentetan kisah masa mudaku. Pun menjadi bagian dari kisah ulatku. Pesanku, saat kita sama-sama telah bermetamorfosa dengan sempurna, tetap jangan lupakan kisah ulat ini selamanya. Untuk kamu yang merasa jadi bagian dari masa puberku. n.a. 23 Mei 2016 Selamat hari kelulusan.

Cheer Up!

Aku kehabisan napas. Kemudian jatuh terhempas. Terengah dan tak tahu arah. Dekil, lemah, dan lelah. Tapi tidak sekalipun bagiku untuk menyerah. Aku kehilangan tujuan. Berjalan kesana-kemari dalam ruang kosong penuh kebimbangan. Selagi berpikir di mana harus berhenti ketika aku sedang memutar dalam lingkaran. Terjebak dalam fatamorgana tak berkesudahan. Tapi kuyakin akan ada keajaiban. Sampai kram kakiku karena terlalu banyak berlari. Pun sesuatu di dalam tubuhku terasa sakit tak terperi. Tapi biar kusimpan sendiri. Biarkan aku memeluk erat segala masalah yang kumiliki. Apa-apa yang melemahkanku biar kupendam dalam hati. Dan tetap menggandengnya sebagai pelajaran saat aku bangkit kembali. n.a. Mei, 2016

Malam Ini

Malam ini untuk pertama kalinya, dia merasa ingin semalaman terjaga. Malam ini juga baginya, dia ingin menangis keras tanpa alasan yang jelas. Malam ini dia tidur lebih larut dari biasa. Memikirkan banyak hal yang seketika luber di kepala. Prasangka-prasangka buruk tumpah seperti air bah, tak terbendung sudah. Tapi apa yang sebenarnya menyakitkan? Dan bagian mana yang menjadi sumber kesakitan? Yang menjadi masalah hanya satu, dia tidak tahu. Dia menarik napas dalam-dalam. Lantas terisak dalam diam. Merasakan sekujur hatinya lebam. 22.50 19 April 2016 p.s. dia bukan aku.

Lima Belas

Lengah mata bisa membutakan hati Lengah pikiran tak jarang melumpuhkan nurani Ingkar kepada Tuhan sendiri Segala sesuatu-Nya pun dia dustai Ah, dia memaki lagi, katanya hidup di dunia tak perlu seserius ini Walau enyah dunianya membuat sedih tak terperi Kembali ke pelukan Tuhan pun dia tak sudi Merasa paling tinggi di antara semua makhluk seantero bumi Bila sudah habis masa, barulah dia sesali Apa nantinya aku juga menjadi manusia seperti ini? Terhitung hari ini, lima belas tahun sudah kehadiranku di bumi Bernapas dan menikmati segala sesuatu yang tiada habis disyukuri Bisikku, "Ya Tuhan, jauhkan aku dari sifat tinggi hati, agar sekuat dan setinggi apapun aku nanti, senantiasa ingat bahwa aku akan jatuh kembali ke perut ibu pertiwi." 13 April 2016

Syair Pendusta

Syair ini ditujukan kepada orang yang selalu dilihatnya dari seberang sana. Yang sama sekali tidak pernah menengokkan kepala. Ada kalanya ketika dia ingin melakukan hal yang sama, mungkin ini saatnya. "Raib sajalah rasa," pelan sekali dia mengucap mantra. Seberapa berhasilkah mantra itu? Aku dan dia sendiri ingin tahu. Namun kami harus menunggu waktu Guna memastikan raibkah rasa itu; atau semakin memburu. Pernahkah kalian bertemu seorang pendusta? Entah itu perkataan atau tindakan sama sekali tidak imbang dengan niatan. Entah itu pikiran atau perasaan sama sekali tidak pernah diutarakan. Di dalamnya termasuk juga orang-orang yang selalu berlawanan dengan yang hati nuraninya bilang. Nama gadis yang mengucap mantra itu adalah Azura. Dia mengatakan padaku bahwa mungkin mantra itu akan berguna. Meski sering tidak sejalan, kali ini untuk beberapa alasan, aku meyakinkannya, bahwa dia akan segera lupa. Meski orang-orang di sekitar meremehkannya. Mereka bilang dia ha...

Basi

Aku ucapkan selamat datang Kepadamu dari perjalanan panjang di hati orang Rupanya kau masih punya kekuatan Untuk membuat hati dan pikiranku tidak seimbang Pun logika yang seketika gersang Tapi seperti yang kata hatiku bilang Memang sudah seharusnya kau menghilang Pun tidak ada niatan bagiku untuk mengundang Jadi tidak perlu susah payah datang Buat apa kembali hanya untuk basa-basi? Buat apa peduli jika ada maksud tersembunyi? Sudah, tak perlu kau dekati aku Karena kau bukan lagi tipeku Juga tak akan aku bersandar ke bahu nyamanmu lagi Karena kutahu kini Di situ tersembunyi banyak duri Yang terlalu rawan untuk menyakiti hati n.a. 2016 [Teruntuk temanku yang sedang berjuang keras agar bisa berdamai dengan kenangan.]

Sesuatu di dalam Cermin

Kita bercerita setiap hari, tentang ini dan itu, tentang segala hal. Sebegitu seringnya sampai aku mengetahui semua tentangmu, juga sebaliknya. Tetapi kau adalah sesuatu di dalam cermin yang tidak bisa kusentuh. Dan aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Seseorang telah kau izinkan masuk ke dalam sana, menemanimu. Gerak-gerikmu yang mencurigakan membuatku takut. Benar saja, kau semakin menjauh dari cerminku. Tidakkah kau ingin melihatku sekali lagi sebelum kau benar-benar pergi? Aku belum dan tidak ingin siap. Aku sebegitu inginnya memelukmu, merasakan genggaman tanganmu. Tetapi kau adalah sesuatu di dalam cermin yang tidak bisa kusentuh. Dan tak bisa kujadikan nyata sekalipun cermin itu telah kupecahkan. Membuatku menyesal karena kelak aku semakin mustahil melihatmu. Tidakkah kau ingin melihatku seperti aku ingin melihatmu? Sebegitu inginnya aku sampai tenagaku habis untuk menangis. Sebegitu rengsanya aku sampai pecahan-pecahan cermin itu kubiarkan melukai kakiku. Dan mere...

Takdir

tak·dir n 1 ketetapan Tuhan; ketentuan Tuhan Bisa saja seorang anak berprasangka bahwa nilai jelek adalah tadirnya. Boleh jadi memang takdir atau malas berpikir. Bisa saja seorang penggemar berprasangka bahwa sang idola adalah takdirnya. Boleh jadi nyata, atau selamanya fatamorgana. Dan aku juga bisa berprasangka bahwa kau adalah takdirku. Masa bodo benar atau bukan, kau sudah kupatenkan. Kau adalah takdirku. Kau adalah ketetapan yang Tuhan berikan kepadaku. Setidaknya aku merasa begitu sejak beberapa detik yang lalu. Meski kedengarannya seperti menuntut sesuatu. Ah, kata siapa aku rindu padamu? Nanti malam kan kita dijadwalkan bertemu. Dalam masing-masing mimpi kita, aku dan kamu. Atau mungkin hanya aku? n.a. 2016