Langsung ke konten utama

Kekasih Sang Malam

Dia terduduk di lantai pualam.
Bibirnya bungkam.
Karena ia sedang menangis dalam diam.
Kejahatan apa yang baru saja dia lakukan?

Dialah penjahat tercerdik di seluruh kota.
Hanya orang-orang tertentu yang dapat menemuinya.

Dialah orang yang paling diburu.
Sebut julukannya, maka orang-orang akan sembunyi di balik pintu.

Dialah penjahat yang disebut-sebut sebagai jelmaan hantu.
Identitas aslinya tidak ada yang tahu.

Tapi lihatlah malam ini.
Dengan ringan ia menyerahkan diri.
Siapa orang ini? Mengapa dia mengaku sebagai penjahat tercerdik abad ini?
Berita ini akan segera terdengar di mana-mana esok hari.

Identitas orang paling diburu telah diketahui.
Dia seorang mahasiswi berprestasi.
Yang tidak disangka memiliki hobi keji.
Begitulah headline berita pagi ini.

Dia telah berada di balik jeruji besi.
Masa bodo dengan ancaman hukuman mati,
masih terngiang kejadian malam tadi.
Saat dia bergegas pulang kemudian menyerahkan diri.

Orang yang semalam menjadi sasaran berikutnya.
Orang yang hampir dibunuhnya.
Mengatakan sesuatu padanya.
Membuat dirinya pias seketika.

"Kau sudah pulang, Nak?"

Deg. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih keras.

Dia mengenali suara itu. Sangat.

"Aku bertanya-tanya kapan serangan musuhku tiba. Seseorang pasti telah menyuruhmu, kan?"

Dia masih bersembunyi di balik dinding.

"Kau masih suka keluar malam, Maryam?" Orang itu bertanya lagi.

Lututnya gemetar. Kemudian jatuhlah alat rancangan di sebelah kakinya.

Dia masuk ke ruangan di mana suara itu berasal.
Wanita itu masih sama.
Matanya tidak bisa melihat namun instingnya tidak pernah terlewat.

"Hari ini terakhir kali Maryam keluar malam, Ibu. Maafkan aku... harus menjalankan tugasku."

Terdengar suara ledakan kecil. Sedetik kemudian, Maryam menangis.

Dia tersenyum dengan raut muka suram.
Dia senang ibunya masih selamat atas tembakannya semalam.

Dialah Maryam.
Orang-orang menjulukinya kekasih sang malam.

n.a.
P.s.: Jangan begitu terkejut karena banyak hal tak terduga; tersembunyi dalam kegelapan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021