Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Sajak untuk Puisi

Puisiku adalah rumah bagi kata-kata yang kehilangan arah. Tempat singgah bagi rasa yang tumpah ruah. Serta ungkapan resah bagi jiwa yang gelisah. Puisiku adalah sajak-sajak tidak berirama. Puih dan tak berdaya terhadap sesamanya. Sebab lebih banyak elegi daripada sukacita. Puisiku adalah sekumpulan rahasia yang ambigu. Tumpang tindih namun tidak menyatu. Meski begitu aku sangat tahu ke mana ia menuju. Sebab puisiku adalah aku. n.a. Agustus, 2017.

Rahasiaku dengan Puisi

Seringkali terjadi siklus hujan ketika awan dalam pikiranku mulai berkumpul dan menghitam. Terkadang turun menjadi hujan aksara, meski tak jarang menjadi air mata. Ketika hujan aksara itu turun, tetesnya akan bermuara di ujung jemari. Lantas mengalir seiring dengan imajinasi, yang kemudian menjelma menjadi bait-bait puisi. Tidak mengapa seperti bercerita kepada diri sendiri. Asal kegelisahanku berhenti membelah diri. Tidak mengapa tidak ada yang mengerti. Agar rahasiaku tetap tersimpan rapi dalam bait-bait puisi. Tetapi aku sadar diri dengan bahasaku yang tidak terlalu tinggi. Jadi jika kamu mengerti, bolehkah kamu berpura-pura tidak mengetahui? Sebab segala yang kuceritakan melalui jemari adalah rahasiaku dengan puisi. Yang diam-diam kualirkan melalui aksara-aksara yang berjejer rapi. Agar hujan dalam pikiranku segera berhenti. n.a. Agustus, 2017.