Langsung ke konten utama

Postingan

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021
Postingan terbaru

Bulan Juli

menghabiskan hari di bulan Juli rasanya seperti mengendarai motor berkecepatan tinggi ya? bila terpejam sedetik saja rasanya akan ada banyak momen yang terlewat walaupun di sepanjang perjalanan pun, pemandangan sekitar tampak sama jemari yang membeku digenggam angin malam membuatku ingin segera sampai tujuan hingga saat lampu di ujung jalan menyilaukan,  barulah tersadar jika tidak ada memori yang terabadikan selain penyesalan . n.a.

Kamu Boleh Berhenti

Aku menulis ini sambil membayangkan jika di dalam hari-hariku tidak ada lagi kamu. Mungkin akan ada gelembung kekosongan di dalam hatiku yang sulit dipecahkan oleh waktu. Tetapi kapan pun kamu boleh berhenti. Jika bersamaku hanya menyakiti dirimu sendiri. Aku mengerti bahwa orang yang kamu sayangi bukanlah tempat sampah untuk membuang segala keluh kesah. Tetapi emosi semata membutakan segala. Seharusnya aku tidak berkata sedemikian rupa agar kamu tidak terluka. Kapan pun kamu boleh menyerah. Jika hari-hari bersamaku tidak lagi indah. Dan, kapan pun kamu boleh berhenti. Jika denganku membuat langkah kakimu untuk menggapai mimpi melambat atau terhenti. Aku tahu rasa ragu kembali memasuki rongga hatimu. Membuatku bertanya-tanya, apa yang harus aku lakukan untuk kembali meyakinkanmu? Jawabannya adalah tidak ada, jika bukan murni kemauanmu. Jadi, kapan pun kamu boleh berhenti. Kata orang, mengikhlaskan adalah level tertinggi mencintai. n.a. Mei, 2020.

Sebuah Awal

Saat itu, kamu lagi-lagi bercerita. Tentang dia yang tidak kunjung membalas rasa. Tentang dia yang kamu khawatirkan pergi tanpa aba-aba. Tentang dia yang selalu meninggalkan jejak di kepala. Lalu esok dan seterusnya kamu kembali bercerita. Tentang orang yang sama. Keluh yang tiada beda. Dan harapan yang masih ada. Kupikir berbagi cerita denganku adalah kesalahan awal paling fatal dalam kisah ini. Sebab aku lebih banyak menyemangati tanpa memberi solusi. Dan aku tidak tahu jika pada akhirnya kamu akan jatuh hati lagi. Suatu ketika, kamu tiba-tiba bertanya. Apakah aku punya cerita serupa? Sebab katamu, aku terlalu banyak mendengar tanpa bertukar cerita. Tentu, walau sedikit aku punya. Tetapi kisahku terlalu memalukan untuk diceritakan. Aku malu menjadi orang yang selalu ditinggalkan. Itulah mengapa aku mengubur kisahku dalam-dalam. Menyimpannya sebagai puisi yang ambigu agar orang-orang tidak paham. Termasuk kamu, yang tidak akan pernah kuceritakan tentang kisahku yang...

Kamu Berbeda

Kamu berbeda. Meski kamu mengelak, bagiku kamu tetap berbeda. Hari ini kita bertemu. Walau disengaja, aku tetap merasa malu. Terlebih saat kamu duduk di depanku, lantas memesan kopi kesukaanmu. Kamu berbeda. Biasanya kamu memakai kaos pendek biasa, namun kali ini rapi dengan kemeja. Beberapa kali mata kita bertemu. Dengan cepat kualihkan pandanganku agar kamu tidak tahu bahwa aku masih tersipu. Rasanya baru kemarin malam, kita saling melambaikan tangan. Merasa tidak sanggup melanjutkan dan tertatih mencari pegangan. Rasanya baru kemarin malam, aku merasa begitu kehilangan. Lalu menyimpan rapi seluruh kenangan bersama air mata yang tidak tertahan. Kamu berbeda. Waktu yang berlalu mengubah segala. Meski begitu, saat kamu menanya kabar. Dadaku masih berdebar. Kemudian kamu berkata bahwa aku masih sama, menulis seperti biasa. Tentu saja, aku masih sama. Sebab aku masih dengan penaku, sementara kamu kini dengan wanita itu, yang duduk di sebelahmu, dan tersenyum s...

Hal yang Aku Lebih Suka

aku lebih suka menulis daripada bercerita seringkali hal-hal yang terkait rasa tidak bisa kuutarakan dengan suara namun tumpah dalam susunan aksara aku lebih suka langit biru daripada senja menumpahkan cerita yang selalu tertunda sebelum mentari tumbang di ufuk seberang dan hilang di langit malam aku lebih suka mendung daripada hujan aku lebih suka terlelap daripada larut dalam kesedihan aku lebih suka melupakan daripada mendendam aku lebih suka diam daripada mengeluarkan umpatan dan aku lebih suka menepi daripada membuatmu tidak nyaman karena semakin lama aku sadari bahwa kita sama-sama sendiri di bawah kata bersama n.a. Agustus, 2018