Langsung ke konten utama

Sebuah Awal

Saat itu, kamu lagi-lagi bercerita.
Tentang dia yang tidak kunjung membalas rasa.
Tentang dia yang kamu khawatirkan pergi tanpa aba-aba.
Tentang dia yang selalu meninggalkan jejak di kepala.

Lalu esok dan seterusnya kamu kembali bercerita.
Tentang orang yang sama.
Keluh yang tiada beda.
Dan harapan yang masih ada.

Kupikir berbagi cerita denganku adalah kesalahan awal paling fatal dalam kisah ini.
Sebab aku lebih banyak menyemangati tanpa memberi solusi.
Dan aku tidak tahu jika pada akhirnya kamu akan jatuh hati lagi.

Suatu ketika, kamu tiba-tiba bertanya.
Apakah aku punya cerita serupa?
Sebab katamu, aku terlalu banyak mendengar tanpa bertukar cerita.

Tentu, walau sedikit aku punya.
Tetapi kisahku terlalu memalukan untuk diceritakan.
Aku malu menjadi orang yang selalu ditinggalkan.

Itulah mengapa aku mengubur kisahku dalam-dalam.
Menyimpannya sebagai puisi yang ambigu agar orang-orang tidak paham.
Termasuk kamu, yang tidak akan pernah kuceritakan tentang kisahku yang kelam.

Dalam waktu yang tidak sebentar, kisah yang sering kamu ceritakan hilang perlahan.
Entah sejak kapan berganti dengan cerita keseharianmu dari pagi hingga malam.
Dan tiba-tiba kamu berkata bahwa di dekatku kamu merasa nyaman.
Baik, kita saling merasa nyaman karena kita lama berteman, kan?

Tidak ada tebersit sedikit pun untuk memulai hubungan.
Di benakku hanyalah, kamu takut diabaikan dan aku takut ditinggalkan.
Tetapi kamu tidak berpikir demikian.

Hingga suatu saat, aku mencoba memberi jarak.
Membuat ruang untuk menyusun rasa yang acak.

Tetapi kamu berusaha mengembalikanku
dan nyatanya aku tidak bisa mengabaikanmu.

Mungkin kali ini aku terlalu lama menyelam.
Hingga tanpa sadar tenggelam dalam pusaran katamu yang memabukkan.
Anehnya, aku merasa niscaya dan nelangsa dalam waktu bersamaan.
Sebab khawatir terperdaya lagi oleh kata-kata bualan.

Hal yang tidak kusangka dari jauh-jauh hari,
adalah kita dapat berjalan sampai sejauh ini.
Dan kamu tetap sabar menantiku membuka hati.

Sampai di suatu titik aku merasa berbeda,
dan aku bertanya-tanya.
Apakah ini kulminasi dari nuraga,
atau sesuatu di antara kita telah berubah renjana?

Ternyata waktu yang menjawab segala,
ketika pada akhirnya,
aku melihat senyummu sebagai nirwana.

n.a.
Oktober, 2019.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021