Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Kabar Tentang Gentar

Maaf jika gentar masih sukar pergi. Sebab aku hidup kembali dalam lingkaran filantropi, ketika kehilangan membunuhku belum lama ini, dengan sekali tebas tanpa permisi. Aku akan benar-benar mati jika ia membunuhku lagi. Karenanya seringkali gentar menyergap, ketika aku terlelap. Barangkali sesuatu yang gemerlap, mendadak membuatmu lenyap. Maaf jika gentar masih sukar pergi. Kukira kamu amat mengerti. Bahwa tidak mudah mengukuhkan hati, hingga sampai sejauh ini. n.a. Desember, 2017.

Serabut Kalut

aku ingat benar hari itu. kala fajar mengungkung sendu dan dingin menikam kalbu, gadis itu sedang bernyanyi pilu. selebihnya tersisa hening dan sunyi dari kekalutan yang menjadi-jadi. sadar bahwa kini ia hanya sendiri, nyanyiannya pun lantas terhenti. tidak ada lagi nyanyian, tidak terdengar lagi tangisan, tidak ada satu pun ucapan, meski di ujung lidah tertahan. aku ingat benar hari itu. seolah cahaya sedang menyingsing rindu, di depan jasad-jasad yang terbujur kaku gadis itu tidak lagi mampu. dalam diam ia hanya bisa tergugu. n.a. Desember, 2017. Turut berduka atas kekalutan yang mendunia.

Gelisah

Langit malam beranjak padam. Meski begitu gelisah ini tidak dapat kuredam. Hanya malam ini bulan purnama tampak malu-malu. Pun tidak ada bintang yang sedang menunggu. Yang tersisa hanyalah aku. Bagian dari setitik sendu di ujung rindu. Apa yang kuharapkan dari ucapan selamat tinggal? Kehilangan hanya menyisai kenangan yang kelak juga tanggal. Suka cita hanya sementara sebab ia tidak lagi berdaya. Sejauh yang terasa, duka selalu berbuah luka. Kini merindu bukan lagi hal yang tabu. Sebab aku dan kamu tidak lagi bisa bertemu. Pun persuaan terakhir kita telah tertinggal bertahun-tahun lalu. Aku ingin terus menulis agar kenangan itu tidak layu. Meski gelisah dan tatapan sayu seringkali menyatu. Aku ingin terus merindu agar bisa terus mengingatmu. n.a. November, 2017. Tiga tahun sudah berlalu .

Semalam

Pukul lima pagi. Waktu di mana sinar matahari mulai muncul dari timur, embun masih menggantung di ujung dedaunan – menunggu untuk menguap –, dan kabut masih mengganggu jarak pandang. Pukul lima pagi. Waktu di mana gadis itu harus bangun seperti hari-hari biasa, tetapi pagi ini tidak. Alas tidurnya tiba-tiba menjadi sangat nyaman dan selimutnya menjadi sangat hangat; tidak seperti tadi malam sebelum tidur. Pukul lima pagi. Bunyi peluit sudah terdengar di mana-mana, membangunkan mereka yang masih lelap. Entah karena kelelahan membangun tenda kemarin atau tidak bisa tidur semalaman dan baru bisa tidur pagi tadi karena suasana tempat tidur baru. “Namira, bangun cepat!” “Iya, iya, sudah bangun.” Ucap gadis yang barusan dipanggil Namira itu sambil mengulat. “Sedari tadi bilang sudah, tapi tidak bangun-bangun! Yang lain sudah keluar, tinggal kamu saja, Na,” omel teman Namira sambil menarik selimut yang dipakainya. “Hm, kamu duluan ...

Analogi Sebuah Elegi

“Ibu, aku pulang.” Kalimat itu refleks terucap ketika aku sampai di pintu utama rumah yang terbuat dari kayu. Mataku terpicing, udara familiar menyapa kulitku lembut, berbisik selamat datang. Aku mendorong pintu yang berderit pelan kemudian bergerak maju selangkah demi selangkah. “Ibu, aku pulang.” Ulangku. Biasanya setelah mendengarku pulang, ibu segera menyuruhku ganti baju dan makan siang, seolah tahu bahwa anaknya ini sedang menahan lapar. Tetapi kali ini, tidak ada jawaban. Hanya angin yang masuk melalui celah-celah dinding kayu, membuat suara. “Mbak?” Aku tersadar dari lamunanku setelah seorang wanita menepuk bahuku pelan. Sepertinya dia sudah lama berada di sampingku dan mengajak bicara tetapi pikiranku tanpa sadar entah di mana. Dia adalah adikku. “Butuh waktu lama untuk pulang ya, Mbak.” Ujarnya sambil menyeruput secangkir teh hangat. Aku mengangguk. Benar, aku butuh terlalu banyak waktu untuk kembali menginjakkan kaki di ru...

Hujan Kepagian

Dibanding kemarin, hari ini hujan turun kepagian. Gadis itu mendengus sebal. Sebab tanpa persiapan, ia akan basah kuyup oleh hujan. Baiklah, jika sudah begini, hujan harusnya dinikmati. Maka ia menari-nari di bawah hujan, melepaskan segala keresahan, menampung semua tetes kenangan dalam tubuhnya yang rentan. Tetapi hujan di pagi hari tidak menyenangkan jika dinikmati sendiri. Sebab kehangatan yang ditimbulkan secangkir minuman tidak akan sebanding dengan kehangatan seorang teman. Hari ini hujan turun kepagian. Bersama luruhnya keresahan, ia harus menikmati hujan dengan elegi yang terpaksa menjelma senyuman. n.a. September, 2017.

Sajak untuk Puisi

Puisiku adalah rumah bagi kata-kata yang kehilangan arah. Tempat singgah bagi rasa yang tumpah ruah. Serta ungkapan resah bagi jiwa yang gelisah. Puisiku adalah sajak-sajak tidak berirama. Puih dan tak berdaya terhadap sesamanya. Sebab lebih banyak elegi daripada sukacita. Puisiku adalah sekumpulan rahasia yang ambigu. Tumpang tindih namun tidak menyatu. Meski begitu aku sangat tahu ke mana ia menuju. Sebab puisiku adalah aku. n.a. Agustus, 2017.

Rahasiaku dengan Puisi

Seringkali terjadi siklus hujan ketika awan dalam pikiranku mulai berkumpul dan menghitam. Terkadang turun menjadi hujan aksara, meski tak jarang menjadi air mata. Ketika hujan aksara itu turun, tetesnya akan bermuara di ujung jemari. Lantas mengalir seiring dengan imajinasi, yang kemudian menjelma menjadi bait-bait puisi. Tidak mengapa seperti bercerita kepada diri sendiri. Asal kegelisahanku berhenti membelah diri. Tidak mengapa tidak ada yang mengerti. Agar rahasiaku tetap tersimpan rapi dalam bait-bait puisi. Tetapi aku sadar diri dengan bahasaku yang tidak terlalu tinggi. Jadi jika kamu mengerti, bolehkah kamu berpura-pura tidak mengetahui? Sebab segala yang kuceritakan melalui jemari adalah rahasiaku dengan puisi. Yang diam-diam kualirkan melalui aksara-aksara yang berjejer rapi. Agar hujan dalam pikiranku segera berhenti. n.a. Agustus, 2017.

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Fatamorgana

di tengah cahaya temaram, di atas dinginnya lantai pualam, dan air muka yang berubah suram, dia bilang sekujur hatinya lebam. tubuhnya bergetar dalam tangis, separuh hatinya menjadi skeptis. meski bibirnya selalu tersenyum manis, dia bilang hatinya teriris. bersama teman terbaiknya; kesunyian, selain malam dengan sinar rembulan. aku sangat yakin apa yang dia ucapkan, dia bilang akan bertahan. Tuhan, aku ingin memeluknya, berbisik padanya agar jangan meneteskan air mata. tetapi dia hanyalah fatamorgana, yang tidak bisa ku jadikan nyata. n.a. Juli, 2017.

Analogi Jatuh Hati

jatuh hati itu seperti ketika bianglala yang kamu pandang penaka rengsa hilang dari angkasa, boleh jadi bibit filantropi yang tersemai telah berbuah renjana. tetapi analogi jatuh hati, tidak selalu sesederhana ini. n.a. 2017

Setahun Lalu

Hari ini tepat setahun lalu. Aku justru berharap kamu lupa. Mungkin kita yang terlalu terburu waktu. Sehingga keputusan itu datang begitu saja. Lewat angin yang mendesir. Dan gulungan ombak yang bersyair. Aku dan kamu telah menjadi takdir. Yang kemudian ditetapkan untuk sekadar mampir. Aku teramat bahagia sampai benar-benar lupa. Bahwa fana ini akan rusak dengan segera. Aku terjerembap dalam rasa yang lewat dari semestinya. Tidak bisa menghindar untuk jatuh dan terluka. Hari ini tepat setahun lalu. Kamu mulai menggenggam tanganku untuk hari-hari baru. Tetapi hari ini aku harus tahu. Genggamanmu sungguh bukan lagi untukku. Dan kamu harus tahu. Kelak, sajakku juga bukan lagi untukmu . n.a. 27 Mei 2017.

Mati Rasa

Rasanya kini telah mati. Meski ditanya tentang cinta beribu kali. Ia hanya akan diam tak peduli. Kini di matanya tidak ada lagi pelangi jingga bersemayam. Garis bahagia di bibirnya tidak lagi tersulam. Yang tersisa hanyalah awan kelam. Menumpuk dendam, bersiap menunggu belati rindu menghunjam. Kala itu datang, ia akan menangis tergugu. Ia jenuh menunggu. Kapan ia akan terbiasa mendengar namamu. Tanpa harus tersedu dalam bisu. Jadi ia memaksa bersikap biasa saja. Karena seringkali ketakutan tiap membangun asa. Hingga akhirnya menjadi mati rasa. Rasanya kini telah mati. Sempurna terenggut olehmu yang pergi tanpa basa-basi. Menyisai sedikit perih namun tak terperi, yang semoga saja tidak abadi. n.a. April, 2017.

Padahal

Aku mengangguk, tidak apa. Padahal iya. Yang kurasa kini hanya luka. Aku tersenyum samar. Padahal benar. Sekujur hatiku terlanjur memar. Aku tertawa lepas. Padahal asaku jatuh terhempas. Tidak bersisa, tinggal ampas. Aku berlagak angkuh. Padahal air mataku pun jatuh. Ketika menyadari kamu begitu jauh. Dan tak lagi bisa kusentuh. Padahal dulu ingin kuceritakan semua. Tetapi kini biar aksaraku yang berbicara. Sebab bibirku tak lagi kuat berkata perihal kita. n.a.

Menanti Hujan Reda

Aku duduk di depan secangkir kopi panas. Berteman rintik hujan yang menderas. Sembari memasang lagu di telinga. Menanti hujan reda. Sejenak terlintas kamu di memoriku. Mungkin karena laguku yang sendu. Seharusnya kubuang saja ingatan itu. Aku benci pernah sebahagia itu di dekatmu. Akhirnya kamu dan kenangan itu singgah lebih lama. Terlebih saat tidak sengaja terputar lagu kita. Jadi kubiarkan mereka mendekam dalam kepala. Menemaniku hingga hujan reda. Aku tidak apa-apa, sudah kubilang. Ini hanya sampai hujan menghilang. Selepas itu, semuanya akan kembali dalam penyimpanan. Tertumpuk dalam sehingga menyentuhnya pun enggan. Tetapi hujan tidak kunjung berhenti. Aku sudah bosan menanti. Sementara kenangan terus saja membanjiri. Dan tidak ada cara bagiku untuk menghindari. Maaf, Tuhan. Tetapi hujan memang sialan bagi kami para anti-kenangan. Aku tercenung lama, sedikit bernostalgia. Hingga akhirnya hujan reda. Yang tersisa hanyalah hujan baru, di pelupuk mataku, k...

Perkenalkan

perkenalkan, aku adalah kenangan yang ditinggalkan. gadis itu terseok-seok membawaku sendirian. dia tahu bahwa aku sama sekali tidak ringan. tapi untuk pria di seberang, dia paksa berjalan. perkenalkan, aku adalah kenangan yang kini dihindari si pria. tapi gadis itu menyayangiku sampai sebegitunya. dia takut bila aku benar-benar ditinggalkan olehnya. dia juga takut bila tidak ada yang tersisa tentangku baginya. jadi dia memelukku erat. meski hatinya tidak lagi kuat. karena dia tahu, cinta yang hebat akan diminta bertahan hingga sekarat. n.a. 2017

Kisahmu dan Rasaku

Ia bilang padaku bahwa cerita ini dimulai ketika kamu memberi ruang padanya untuk tumbuh seiring berjalannya hari. Ia juga ingat bahwa kamu memintanya kuat melalui ini. Kemudian ia mengangguk, menyanggupi. Dan ia tinggal di dekatmu dengan senyum paling berseri. Sebelum tiba-tiba kamu menyuruhnya pergi. Lalu dengan mudah kamu tertawa lagi. Sementara ia masih terlantung di jalan setapak ini. Menanti, kapan dapat bertamu lagi. Tetapi kamu bilang padanya, "Sudah, tidak ada yang bisa dinanti. Aku ingin sendiri." Jadi perlahan ia merangkak pergi. Tertatih melewati sunyi. Berkali-kali goyah sebab kenangan denganmu tak jarang menghampiri. Tapi ia tidak mungkin kembali. Sebab sudah terlalu jauh melangkahkan kaki. Dan ruang yang pernah kamu beri, musnah begitu saja kini. Ia tahu bahwa dirinya telah dibodohi. Tidak ada yang benar-benar ingin sendiri. Sebenarnya aku sudah tahu. Jauh sebelum ia mengakui ceritanya padaku. Aku tahu. Bagaimana kamu membuatnya seperti itu....