Langsung ke konten utama

Mati Rasa

Rasanya kini telah mati. Meski ditanya tentang cinta beribu kali. Ia hanya akan diam tak peduli.

Kini di matanya tidak ada lagi pelangi jingga bersemayam. Garis bahagia di bibirnya tidak lagi tersulam. Yang tersisa hanyalah awan kelam. Menumpuk dendam, bersiap menunggu belati rindu menghunjam.

Kala itu datang, ia akan menangis tergugu. Ia jenuh menunggu. Kapan ia akan terbiasa mendengar namamu. Tanpa harus tersedu dalam bisu.

Jadi ia memaksa bersikap biasa saja. Karena seringkali ketakutan tiap membangun asa. Hingga akhirnya menjadi mati rasa.

Rasanya kini telah mati. Sempurna terenggut olehmu yang pergi tanpa basa-basi. Menyisai sedikit perih namun tak terperi, yang semoga saja tidak abadi.

n.a.
April, 2017.

Komentar

  1. Nyeth aku terharu.
    Bukan mati rasa. Tapi benar-benar mati kala rasa rindu itu menghujam.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021