Rasanya kini telah mati. Meski ditanya tentang cinta beribu kali. Ia hanya akan diam tak peduli.
Kini di matanya tidak ada lagi pelangi jingga bersemayam. Garis bahagia di bibirnya tidak lagi tersulam. Yang tersisa hanyalah awan kelam. Menumpuk dendam, bersiap menunggu belati rindu menghunjam.
Kala itu datang, ia akan menangis tergugu. Ia jenuh menunggu. Kapan ia akan terbiasa mendengar namamu. Tanpa harus tersedu dalam bisu.
Jadi ia memaksa bersikap biasa saja. Karena seringkali ketakutan tiap membangun asa. Hingga akhirnya menjadi mati rasa.
Rasanya kini telah mati. Sempurna terenggut olehmu yang pergi tanpa basa-basi. Menyisai sedikit perih namun tak terperi, yang semoga saja tidak abadi.
n.a.
April, 2017.
Nyeth aku terharu.
BalasHapusBukan mati rasa. Tapi benar-benar mati kala rasa rindu itu menghujam.