Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Analogi Sebuah Elegi

“Ibu, aku pulang.” Kalimat itu refleks terucap ketika aku sampai di pintu utama rumah yang terbuat dari kayu. Mataku terpicing, udara familiar menyapa kulitku lembut, berbisik selamat datang. Aku mendorong pintu yang berderit pelan kemudian bergerak maju selangkah demi selangkah. “Ibu, aku pulang.” Ulangku. Biasanya setelah mendengarku pulang, ibu segera menyuruhku ganti baju dan makan siang, seolah tahu bahwa anaknya ini sedang menahan lapar. Tetapi kali ini, tidak ada jawaban. Hanya angin yang masuk melalui celah-celah dinding kayu, membuat suara. “Mbak?” Aku tersadar dari lamunanku setelah seorang wanita menepuk bahuku pelan. Sepertinya dia sudah lama berada di sampingku dan mengajak bicara tetapi pikiranku tanpa sadar entah di mana. Dia adalah adikku. “Butuh waktu lama untuk pulang ya, Mbak.” Ujarnya sambil menyeruput secangkir teh hangat. Aku mengangguk. Benar, aku butuh terlalu banyak waktu untuk kembali menginjakkan kaki di ru...