Bila tiba-tiba aku diam. Bukan berarti kupingku tidak dengar. Otakku sedang memikirkan jawaban. Bagaimana supaya tidak terdengar mengecewakan. Bila tiba-tiba tawaku terhenti. Bukan berarti bahagiaku seketika hilang ditelan bumi. Itu karena aku tidak ingin berlanjut menertawakan diri sendiri. Kemudian meratapi nasib diri. Bila di tengah tawaku keluar air mata. Biar saja, meski terlihat gila. Karena seperti sesuatu yang tertimbun kemudian perlahan dibuka, mengalir lega. Bila aku jatuh kemudian. Memang kepada-Nya aku meminta bantuan. Bersimpuh, mengucap beribu ampunan dan permohonan. Meminta petunjuk bagaimana caraku berjalan tanpa keseimbangan. Namun bila jiwaku benar-benar rapuh. Bercerita kepadamu, aku butuh. Aku bisa mendengar meski jauh. Ingat kalau aku punya indera ke-tujuh? Bila aku mulai berdiri. Tak akan kulepaskan itu jemari. Tetap kugenggam dalam hari-hari. Sembari memasang senyum sebersinar mentari. n.a. September, 2016.