Langsung ke konten utama

Bila

Bila tiba-tiba aku diam.
Bukan berarti kupingku tidak dengar.
Otakku sedang memikirkan jawaban.
Bagaimana supaya tidak terdengar mengecewakan.

Bila tiba-tiba tawaku terhenti.
Bukan berarti bahagiaku seketika hilang ditelan bumi.
Itu karena aku tidak ingin berlanjut menertawakan diri sendiri.
Kemudian meratapi nasib diri.

Bila di tengah tawaku keluar air mata.
Biar saja, meski terlihat gila.
Karena seperti sesuatu yang tertimbun kemudian perlahan dibuka,
mengalir lega.

Bila aku jatuh kemudian.
Memang kepada-Nya aku meminta bantuan.
Bersimpuh, mengucap beribu ampunan dan permohonan.
Meminta petunjuk bagaimana caraku berjalan tanpa keseimbangan.

Namun bila jiwaku benar-benar rapuh.
Bercerita kepadamu, aku butuh.
Aku bisa mendengar meski jauh.
Ingat kalau aku punya indera ke-tujuh?

Bila aku mulai berdiri.
Tak akan kulepaskan itu jemari.
Tetap kugenggam dalam hari-hari.
Sembari memasang senyum sebersinar mentari.

n.a.
September, 2016.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021