Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Kamu Berbeda

Kamu berbeda. Meski kamu mengelak, bagiku kamu tetap berbeda. Hari ini kita bertemu. Walau disengaja, aku tetap merasa malu. Terlebih saat kamu duduk di depanku, lantas memesan kopi kesukaanmu. Kamu berbeda. Biasanya kamu memakai kaos pendek biasa, namun kali ini rapi dengan kemeja. Beberapa kali mata kita bertemu. Dengan cepat kualihkan pandanganku agar kamu tidak tahu bahwa aku masih tersipu. Rasanya baru kemarin malam, kita saling melambaikan tangan. Merasa tidak sanggup melanjutkan dan tertatih mencari pegangan. Rasanya baru kemarin malam, aku merasa begitu kehilangan. Lalu menyimpan rapi seluruh kenangan bersama air mata yang tidak tertahan. Kamu berbeda. Waktu yang berlalu mengubah segala. Meski begitu, saat kamu menanya kabar. Dadaku masih berdebar. Kemudian kamu berkata bahwa aku masih sama, menulis seperti biasa. Tentu saja, aku masih sama. Sebab aku masih dengan penaku, sementara kamu kini dengan wanita itu, yang duduk di sebelahmu, dan tersenyum s...

Hal yang Aku Lebih Suka

aku lebih suka menulis daripada bercerita seringkali hal-hal yang terkait rasa tidak bisa kuutarakan dengan suara namun tumpah dalam susunan aksara aku lebih suka langit biru daripada senja menumpahkan cerita yang selalu tertunda sebelum mentari tumbang di ufuk seberang dan hilang di langit malam aku lebih suka mendung daripada hujan aku lebih suka terlelap daripada larut dalam kesedihan aku lebih suka melupakan daripada mendendam aku lebih suka diam daripada mengeluarkan umpatan dan aku lebih suka menepi daripada membuatmu tidak nyaman karena semakin lama aku sadari bahwa kita sama-sama sendiri di bawah kata bersama n.a. Agustus, 2018

Fajar Kala Itu

Fajar kala itu, aku mengingatmu sebagai ombak di lautan yang meninggalkan jejak di sepanjang pantai. Aku menatap langit, lantas berandai-andai. Ombak datang dan pergi, seiring mentari yang meninggi. Aku memutuskan untuk tidak menunggu lagi, sebab aku bukan satu-satunya yang kau temui. Semilir angin membawaku pada rasa yang tidak terdefinisikan. Jemariku membeku kedinginan. Dan air di pelupuk mataku mengalir tak tertahan. Benar, aku tidak sabaran. Fajar kala itu, aku mengingatmu sebagai ombak di lautan yang meninggalkan jejak di sepanjang pantai. Dan kini, hanya ada aku dan segala yang telah usai. n.a. Agustus, 2018.

Untuk Kamu, Si Buta Aksara

aku mampu mencintai bagaikan asa dan memahami tanpa eja. tetapi aku takut terluka, oleh harapan yang tiada habisnya. aku tidak ingin bermain dengan rasa, sebab separuhnya telah rapuh. seluruhnya akan binasa, bila kamu membuatnya luruh. tidak mengapa bila kamu sering pergi tanpa permisi dan lenyap tanpa aba-aba, bagiku kamu hanya ilusi yang sarat fatamorgana. meski begitu dirimu senantiasa hinggap di benak hingga usang. menjelma menjadi seberkas kenangan yang tidak akan hilang. sebab, aku mampu mencintai bagaikan asa dan memahami tanpa eja. tetapi apa guna menerjemahkannya menjadi beribu kata, bila pada akhirnya kamu buta aksara? n.a. Agustus, 2018.

Ketakutan

Dia terlalu takut mendengar hal yang sejujurnya ingin dia dengar darimu. Pun dia tidak ingin membuka lembaran yang telah lalu. Jadi dia hanya tenggelam dalam pikiran yang sia-sia. Kamu tidak pernah bercerita tentang hal itu kepadanya. Dia justru mendengarnya dari orang asing. Tetapi kalimat ini menamparnya, memangnya dia siapa? Berkali-kali gadis itu merenungkan kalimat tersebut. Benar, dia bukan siapa-siapa bagimu. Tetapi kamu telah memberinya harapan yang membuatnya berhak tahu segala tentang kamu. Lalu kamu kembali membuatnya bertanya, memangnya dia siapa? Tidak ada yang bisa menjelaskannya dengan baik selain kamu. Mungkin kamu masih menginginkan selain dia. Mungkin juga dia tidak bisa membuatmu berpaling. Atau mungkin keberadaannya hanya sebagai teman saat kamu butuh saja. Prasangka-prasangka itu telanjur membunuhnya. Membunuh segala kepercayaan yang ia tanam dengan susah payah. Dia tidak ingin lagi. Sungguh tidak ingin jika itu bukan kamu. Tetapi ia membuka hati se...

Barangkali

Barangkali aku hanya senja yang fatamorgana, terlihat namun nyatanya tidak ada. Barangkali aku hanya siarah yang tak kenal lelah, berkutat agar di matamu tampak indah. Barangkali aku hanya mentari yang terang, sementara kamu merindukan bintang sepanjang siang. Barangkali aku hanya senoktah debu yang semu, yang bagimu mengusik dan mengganggu. Barangkali bersua denganku adalah sia-sia, maka aku akan menarik hatiku dengan rengsa. Barangkali prasangkaku keliru, aku minta maaf padamu. Tetapi barangkali prasangkaku benar, aku tidak akan terkejut, bukan? n.a. 2018

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018