Fajar kala itu, aku mengingatmu sebagai ombak di lautan yang meninggalkan jejak di sepanjang pantai.
Aku menatap langit, lantas berandai-andai.
Ombak datang dan pergi,
seiring mentari yang meninggi.
Aku memutuskan untuk tidak menunggu lagi,
sebab aku bukan satu-satunya yang kau temui.
Semilir angin membawaku pada rasa yang tidak terdefinisikan.
Jemariku membeku kedinginan.
Dan air di pelupuk mataku mengalir tak tertahan.
Benar, aku tidak sabaran.
Fajar kala itu, aku mengingatmu sebagai ombak di lautan yang meninggalkan jejak di sepanjang pantai.
Dan kini, hanya ada aku dan segala yang telah usai.
n.a.
Agustus, 2018.
Komentar
Posting Komentar