aku mampu mencintai bagaikan asa
dan memahami tanpa eja.
tetapi aku takut terluka,
oleh harapan yang tiada habisnya.
aku tidak ingin bermain dengan rasa,
sebab separuhnya telah rapuh.
seluruhnya akan binasa,
bila kamu membuatnya luruh.
tidak mengapa
bila kamu sering pergi tanpa permisi
dan lenyap tanpa aba-aba,
bagiku kamu hanya ilusi
yang sarat fatamorgana.
meski begitu
dirimu senantiasa hinggap di benak hingga usang.
menjelma menjadi seberkas kenangan yang tidak akan hilang.
sebab,
aku mampu mencintai bagaikan asa
dan memahami tanpa eja.
tetapi apa guna menerjemahkannya menjadi beribu kata,
bila pada akhirnya kamu buta aksara?
n.a.
Agustus, 2018.
Komentar
Posting Komentar