Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Gelisah

Langit malam beranjak padam. Meski begitu gelisah ini tidak dapat kuredam. Hanya malam ini bulan purnama tampak malu-malu. Pun tidak ada bintang yang sedang menunggu. Yang tersisa hanyalah aku. Bagian dari setitik sendu di ujung rindu. Apa yang kuharapkan dari ucapan selamat tinggal? Kehilangan hanya menyisai kenangan yang kelak juga tanggal. Suka cita hanya sementara sebab ia tidak lagi berdaya. Sejauh yang terasa, duka selalu berbuah luka. Kini merindu bukan lagi hal yang tabu. Sebab aku dan kamu tidak lagi bisa bertemu. Pun persuaan terakhir kita telah tertinggal bertahun-tahun lalu. Aku ingin terus menulis agar kenangan itu tidak layu. Meski gelisah dan tatapan sayu seringkali menyatu. Aku ingin terus merindu agar bisa terus mengingatmu. n.a. November, 2017. Tiga tahun sudah berlalu .

Semalam

Pukul lima pagi. Waktu di mana sinar matahari mulai muncul dari timur, embun masih menggantung di ujung dedaunan – menunggu untuk menguap –, dan kabut masih mengganggu jarak pandang. Pukul lima pagi. Waktu di mana gadis itu harus bangun seperti hari-hari biasa, tetapi pagi ini tidak. Alas tidurnya tiba-tiba menjadi sangat nyaman dan selimutnya menjadi sangat hangat; tidak seperti tadi malam sebelum tidur. Pukul lima pagi. Bunyi peluit sudah terdengar di mana-mana, membangunkan mereka yang masih lelap. Entah karena kelelahan membangun tenda kemarin atau tidak bisa tidur semalaman dan baru bisa tidur pagi tadi karena suasana tempat tidur baru. “Namira, bangun cepat!” “Iya, iya, sudah bangun.” Ucap gadis yang barusan dipanggil Namira itu sambil mengulat. “Sedari tadi bilang sudah, tapi tidak bangun-bangun! Yang lain sudah keluar, tinggal kamu saja, Na,” omel teman Namira sambil menarik selimut yang dipakainya. “Hm, kamu duluan ...