Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

Menipu Diri

Pagi ini aku mengirim e-mail kepada seseorang. Kuno. Begitu kata teman-temanku. Yah, aku sedikit menyesal tetapi juga lega karena tebakanku ternyata benar. Kuberi tahu satu hal. Kejujuran tidak selalu menyenangkan. Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com> Jangan mengusikku lagi. Boi <adore92@yahoo.com> Aku sungguh minta maaf. Hanya saja aku merasa tidak enak. Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com> Jangan meminta maaf. Lagipula kau tidak sepenuhnya salah. Boi <adore92@yahoo.com> Maafkan aku. Tapi aku tidak bermaksud begitu. Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com> Ah ternyata aku salah membaca kodemu. Atau kau yang terlalu sering membual? Boi <adore92@yahoo.com> Kata siapa? Hm, sepertinya kau salah sangka. Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com> Apa kau menyukaiku? Boi <adore92@yahoo.com> Tentu saja. Ah, kerja paruh waktu sangat menyita waktuku, akhir-akhir ini jadi sibuk sekali. Oh iya, pagi. Ratu Vienny <viny.ratu@yahoo.com> Pagi. Kau...

Karena Kau Temanku

Ada satu hal yang sangat ingin dilakukan pemuda bernama Arif ini. Ia ingin melihat dunia. Tapi tidak sendirian. Arif ingin mengajak serta sahabat sekaligus teman sepermainannya yang istimewa itu. Menurut orang-orang di kampungnya, Bono adalah pemuda bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa dengan benar, selain memancing. Tidak ada yang mempercayainya, bahkan kedua adiknya kandungnya sendiri, selain ibunya dan Arif. Bono hanya sekolah sampai kelas dua SD. Kelas dua itu pun ia tidak tamat karena kesehatan mentalnya yang semakin menurun.               Tapi orang-orang mengira Arif lebih bodoh lagi karena ia mau berteman dengan orang seperti Bono. Bagi Arif, Bono itu istimewa dalam artian lain, Bono itu inspirasinya, Bono juga yang telah mewarnai hari-harinya, mengajaknya bangkit secara tidak langsung saat ia terpuruk karena ditinggal menikah gadis kampung sebelah yang diam-diam ia sukai selama tiga tahun. Ar...

Elegi Tak Berkesudahan

Mengenalmu seperti daun yang disinggahi embun Daun tidak bisa bertemu embun yang sama sekalipun dia sangat menginginkannya Dirimu adalah embun itu Dan aku daunnya Daun yang terlalu mencintai mentari Tak peduli dengan embun yang hidupnya tak sampai sehari Tapi setelah itu merindukannya setengah mati Daun itu paham pada akhirnya Meskipun ribuan embun yang singgah pada tubuhnya Ia tak bisa bertemu embun yang sama sekalipun dia sangat menginginkannya Menciptakan elegi tak berkesudahan selayaknya hari ini Kira-kira seperti hal penting yang pergi ke planet yang tak kauketahui yang berjarak ribuan cahaya dari bumi seolah tak pernah kembali menjadikan hidup semenakutkan mati 29 November 2015 Dari adikmu, yang tak tahu diri. P.s.: Seharusnya hari ini, tepat setahun yang lalu, entah bagaimana caranya, aku bertemu denganmu untuk terakhir kali.