Langsung ke konten utama

Karena Kau Temanku





Ada satu hal yang sangat ingin dilakukan pemuda bernama Arif ini. Ia ingin melihat dunia. Tapi tidak sendirian. Arif ingin mengajak serta sahabat sekaligus teman sepermainannya yang istimewa itu.

Menurut orang-orang di kampungnya, Bono adalah pemuda bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa dengan benar, selain memancing. Tidak ada yang mempercayainya, bahkan kedua adiknya kandungnya sendiri, selain ibunya dan Arif. Bono hanya sekolah sampai kelas dua SD. Kelas dua itu pun ia tidak tamat karena kesehatan mentalnya yang semakin menurun.

             
Tapi orang-orang mengira Arif lebih bodoh lagi karena ia mau berteman dengan orang seperti Bono.

Bagi Arif, Bono itu istimewa dalam artian lain, Bono itu inspirasinya, Bono juga yang telah mewarnai hari-harinya, mengajaknya bangkit secara tidak langsung saat ia terpuruk karena ditinggal menikah gadis kampung sebelah yang diam-diam ia sukai selama tiga tahun. Arif pun tak menyangkal bahwa Bono adalah seorang pemancing yang hebat. Ia sangat sabar, bahkan bisa menunggu hingga seharian untuk membawa pulang seekor ikan gabus.

           
Selain itu, Bono memiliki ketulusan yang sangat Arif kagumi. Ia bisa menunggu adik-adiknya pulang sekolah seharian di teras rumah karena dipesani ibunya. Bisa berjam-jam mendengar curhatan Arif yang selalu itu-itu saja meskipun tak ada yang ia pahami. Tapi Bono selalu membalas perkataan Arif, meskipun hanya dengan mengangguk atau menggeleng, dengan kata ya atau tidak. Bono juga rajin bangun pagi, lebih pagi dari siapapun di rumahnya, meskipun tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah itu. Yang jelas, ia tidak betah berada di kamar terlalu lama.

            
“Karena Arip adalah teman Bono.” Begitulah yang selalu dikatakan Bono setiap kali Arif meminta bantuan. Arif mengangguk senang, tak mempermasalahkan panggilan yang tak pernah benar disebutkan Bono itu.


“Ayo, No. Sebelum padi-padiku dimakan burung-burung kecil itu.”

             
Tidak banyak yang bisa dilakukan Arif di kampungnya itu selain menunggui sepetak sawah milik orang tuanya. Seringkali merasa jenuh membuatnya ingin melihat dunia luar, melakukan banyak hal, seperti teman-temannya yang melanjutkan kuliah di kota provinsi.

            
Menunggui sawah adalah hal yang menyenangkan bagi Arif dan juga Bono. Arif bisa sekalian menunggu gadis yang selama tiga tahun ini diam-diam ia sukai – meskipun sudah bersuami – itu lewat. Maka Arif akan berlari tunggang langgang melewati pematang sawah yang licin ke tepi jalan ketika gadis itu sudah terlihat oleh matanya. Rambut panjang gadis itu yang terurai dihembus angin lembut saat memacu sepeda kayuhnya, sambil tersenyum lebar dengan lesung pipit khasnya dan terkadang sekilas melirik ke arah Arif. Sementara Bono, ia paling senang membunyikan kaleng-kaleng yang jika talinya ditarik sekali saja, bunyinya akan beruntun terdengar di seluruh petak sawah. Lalu burung-burung kecil menggemaskan yang menggerombol itu akan terbang terbirit-birit. Arif tersipu, Bono tertawa lebar. Maka pagi itu adalah waktu favorit mereka.

            
“Sepertinya dia buru-buru, jadi tidak sempat melirik ke arahku. Tapi pagi ini Maryati memakai baju merah yang dipakainya lima belas hari yang lalu dan rok panjang motif bunga yang dominan warna hitam yang dipakainya empat hari yang lalu. Aku juga bisa melihat tiga jepit rambut merah di rambut panjangnya itu, No!” Arif berseru senang, Bono masih memegang tali itu sambil tertawa lebar.


***


Kali ini giliran Arif yang menemani Bono memancing.


“No, apa kamu tidak bosan berada di kampung ini saja? Pergi ke sawah, memancing, pulang ke rumah, menunggu Maryati lewat, membantu panen, pergi ke sawah lagi, memancing, menunggu Maryati lewat lagi, ke pasar, pulang ke rumah lagi. Kalaupun bekerja, aku tidak ingin menjadi kuli panggul seperti anak-anak yang putus sekolah lainnya. Lebih baik tinggal di rumah, bermain denganmu.”

             
“Bekerja dengan Yati.” Bono tertawa, jarang sekali ia bisa menangkap pembicaraan Arif.

            
“Tidak bisa lah, No. Pekerjaan Maryati itu pekerjaan perempuan, menjahit.”


Bono mengangguk.

            
“Aku ingin melihat dunia, No.” Ucap Arif, menatap wajahnya sendiri melalui aliran air sungai yang jernih.


Bono mengangguk lagi.


***

           
“Cari pekerjaan sana, Rif. Jangan diam saja di rumah. Ya kalau sawah dan ladang bapak selalu berhasil. Kalau tidak, mau makan apa kamu.” Bapak Arif yang baru selesai mandi duduk di kursi ruang tengah, menemani Arif yang sedang membaca sebuah buku.

            
“Setiap hari main saja dengan anak dungu itu. Memangnya kamu mau seperti dia, merepotkan orang tua saja. Kadang kasihan melihat bu Siti itu. Sudah suaminya tidak ada, anak sulungnya seperti itu, dua anaknya lagi masih sekolah semua.” Ibu Arif meletakkan secangkir kopi di depan bapak.

            
“Bono bukan anak dungu, Bu. Dia sama seperti orang-orang yang lain, bahkan aku lebih senang kalau main dengannya. Lagipula Bono juga tidak sepenuhnya merepotkan ibunya.” Arif berdecak sebal, tidak terima sahabatnya dicemooh. “Aku juga tidak mau bekerja disini. Tidak ada yang bisa kulakukan. Dan kalau ibu kasihan dengan ibunya Bono, kenapa tidak dibantu?”

            
Bapak Arif yang sedang membaca koran tersenyum simpul. Sementara ibunya mendengus.

             
“Sama seperti bapakmu kalau bicara. Terus mau bekerja dimana? Kamu ini kebanyakan membaca buku, selalu membayangkan yang tidak-tidak. Sudahlah, Nak, bekerja disini pun bisa kaya. Tidak usah muluk-muluk.”

             
“Membaca buku kok dilarang, Bu.”

            
“Bukannya begitu, Pak. Hanya saja si Arif ini tidak mau bekerja disini karena sering memikirkan kalau di luar lebih enak, lebih bebas.”

            
“Aku ingin merantau, Pak, Bu. Mencari pengalaman, bukan hanya kekayaan. Juga melupakan Maryati.”


***

             
“Untuk Arip. Karena Arip adalah teman Bono.” Bono tersenyum lebar, menyerahkan gulungan usang yang robek dimana-mana ke tangan Arif.

             
Arif segera membukanya, sesaat mengernyit.

             
“Apa ini?”

           
“Melihat dunia.”

             
Arif tertawa. Ia percaya bahwa Bono tidak sebodoh yang dipikirkan orang-orang, dan ia benar. Lihatlah, gulungan usang yang robek dimana-mana itu adalah sebuah peta dunia yang mungkin milik adiknya yang tidak terpakai. Karena Arip adalah teman Bono. Maka ia akan membantu Arif melihat dunia dengan pengertiannya sendiri.

            
“Kamu lihat ini, No.” Arif menunjuk gugusan pulau di wilayah bertuliskan Indonesia itu. “Ini pulau Jawa, kampung kita ada disini.” Kini jari telunjuk Arif menunjuk ke pinggir daratan yang dekat dengan warna biru bertuliskan Laut Jawa.

             
“Provinsi kita yang sangat besar menurut orang-orang ternyata tidak sebesar itu. Apalagi kampung kita. Bahkan tidak ada di peta. Kamu tahu kenapa?”

             
Bono tidak menjawab, ia sibuk memperhatikan jari telunjuk Arif yang berada di Pulau Jawa bagian timur itu.

            
“Karena dunia ini sangatlah luas, No. Dari ujung ke ujung. Bayangkan kalau aku bisa berkeliling  Indonesia apalagi ke negeri-negeri yang ada di dunia ini. Aku bisa melakukan banyak hal, No! Tidak hanya menunggu Maryati lewat.” Arif tertawa getir. “Dari buku yang pernah kubaca, negeri yang menjadi impian banyak orang adalah Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, China, apalagi ya. Ah, apa kamu mau juga kesana?”

            
“Mekkah.” Desis Bono dengan senyum lebar khasnya. Ia pasti sering mendengar kata itu di pengajian-pengajian atau cerita orang di pasar.

             
“Ah, iya. Itu juga. Apa kamu mau ikut, ah tidak, tapi menemaniku ke sana?” ulang Arif, membenahi kalimatnya.


Bono mengangguk antusias.


***

            
Arif telah memantapkan niatnya. Dengan berbekal sebagian uang hasil panen orang tuanya, ia pergi ke ibukota untuk menemui sepupunya yang bekerja di kapal. Namun sebelum itu, Arif menemui Bono untuk benar-benar berpamitan. Sebenarnya kemarin Arif sudah berpamitan, tapi setelah itu Bono tidak mau ditinggal sedetik pun olehnya. Jadi ia memutuskan untuk menemui Bono lagi.

            
“Kalau uangku sudah banyak, No, aku akan mengajakmu keliling dunia, terutama ke Mekkah. Karena Arif adalah teman Bono. Iya, kan?” Entah sudah berapa kali Arif mengatakan hal itu pada Bono.

             
Kali ini Bono hanya diam, bahkan tidak mau menatap Arif. Ia hanya menyerahkan gulungan kertas usang yang dikenalinya dan sebuah amplop. Lalu Bono bergegas masuk rumah.

            
Bis berhenti agak lama di sebuah terminal. Pedagang-pedagang asongan bergegas masuk menawarkan dagangannya. Untuk menghemat pengeluaran, Arif menaiki bis ekonomi. Tiba-tiba Arif teringat amplop dari Bono dan segera membukanya. Ia tersenyum-senyum sendiri membacanya, mungkin orang-orang mengira Arif sedang membaca surat cinta. Isinya sederhana memang. Hanya satu paragraf dan berisi kalimat-kalimat perpisahan. Meskipun adiknya yang menulis, bagaimana mungkin Bono memiliki inisiatif seperti ini?

            
“Sedang membaca surat cinta ya, Mas?” goda pria di samping Arif yang dibalasnya dengan senyuman pahit.


***

            
Katakanlah Arif sudah sukses sekarang. Tiga tahun kepergiannya dari kampung untuk menjadi kelasi kapal bersama dengan sepupunya itu menghasilkan sesuatu yang memuaskan baginya. Ia tak pernah sekali pun membuang hasil jerih payahnya itu untuk keperluan yang tidak penting. Bahkan untuk membeli baju pun, sepupunya harus mendesaknya dulu.

            
Meskipun tidak bisa memenuhi keinginannya untuk keliling dunia, selama tiga tahun ini Arif bisa berkeliling Indonesia, Singapura, hingga Malaysia. Awal berlayar memang ia sering mabuk laut, tapi sekarang lihatlah, pemuda asal kampung bernama Arif itu sudah setangguh pelaut ulung. Badai topan tak dihiraukannya, ombak setinggi lima meter tak menjatuhkan metalnya, bahkan bayangan Maryati sudah ditiup angin laut jauh-jauh dari pikirannya.

             
Melalui sepupunya, Arif mengabari orang tuanya bahwa ia akan pulang besok karena kapal yang mengangkutnya itu akan mendarat di daratan paling timur Pulau Jawa yang di peta berdekatan dengan Laut Jawa. Digenggamnya erat lima tiket umroh itu di tangannya. Betapa senang dan bangganya Arif saat itu. Sebelum ia mengetahui ada kabar buruk yang sungguh di luar dugaan.


***

             
Arif terduduk di pojok ruangan. Lima tiket yang buru-buru dikeluarkannya saat masuk rumah itu berhamburan di sekelilingnya. Ia sungguh kesal dan marah, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Arif bahkan terlalu marah untuk sadar bahwa yang dimarahinya itu jauh lebih tua darinya.

             
“Sesuatu yang asing, sama seperti ayahnya dulu.” Lirih wanita itu.

             
Arif lemas, masih sesenggukkan di pojok ruangan, setelah berteriak marah, mengobrak-abrik perabot rumah, memarahi dirinya sendiri, dan semua orang di ruangan itu. Ternyata ada hal yang lebih menyakitkan dibanding ditinggal menikah Maryati.

            
“Bagaimana mungkin kalian semua tidak ada yang memberitahuku?! Aku melakukan ini untuknya. Dia keluargaku. Bagaimana mungkin… bagaimana mungkin kalian tidak memberitahuku?”

          
Seharusnya senja ini Arif bertemu dengannya. Menunjukkan janji-janji yang pernah diucapkannya. Arif bahkan sudah tidak punya tenaga untuk mengeluarkan air matanya. Ia sungguh belum  bisa percaya. Di tengah rindunya yang memuncak itu, bagaimana mungkin ia justru kehilangannya? Yah, itu memang di luar kendalinya.

            
Tetapi seharusnya senja ini Arif bertemu dengannya. Bukannya dengan tanah merah yang masih basah dengan nisan bertuliskan nama orang itu, Bono.


***

Sesedih dan seterpuruk apapun Arif, ia adalah pelaut yang tangguh, sehingga dengan cepat ia harus bangkit. Dan tidak mungkin ia membuang kelima tiket umrohnya itu, bukan? 

Akhirnya satu tiket yang seharusnya milik Bono itu diberikan kepada Maryati yang meskipun jauh-jauh hari sudah dilupakannya, kini memenuhi kepalanya lagi. Arif tahu ini salah dan harus cepat-cepat dibenarkan. Itu artinya, setelah ini ia harus merantau lagi. Ke tempat yang lebih jauh karena kini bertambah satu orang lagi yang semakin ia ingat, semakin terluka hatinya.

Tapi Arif segera tahu bahwa pergi ke tempat yang sangat jauh bukan pilihan yang tepat. Ia memiliki pemahaman baru. Arif ingin berdamai dengan kenyataan. Tidak melarikan diri, tidak pula melupakan. Ia ingin hidup dengan kenangan yang menyenangkan bukan kenangan yang selalu menghantuinya.

Arif teringat sebuah fotonya dengan Bono yang diambil di studio foto saat pasar malam puluhan tahun lalu. Di foto itu, meskipun Bono tidak melihat ke arah kamera, tapi senyumannya tulus. Senyum tulus Bono yang selalu menemaninya itu, akan Arif ingat sampai kapanpun. Diselipkan foto itu di dalam buku doa-doanya. Semua ini ia lakukan untuk Bono. Maka Bono harus merasakan kebahagiaan yang sama seperti Arif yang harusnya ia juga rasakan.


***



Dalam perjalanan ke tanah suci, ibu Bono memberi Arif sepucuk surat.

“Selama kamu pergi, Nak, Bono belajar menulis. Mati-matian minta diajari adik-adiknya. Kamu tahu, keajaiban yang terjadi pada adik-adiknya justru datang sesaat sebelum ia pergi. Adik-adiknya menjadi sangat menyayangi kakaknya, sungguh-sungguh merawatnya sepenuh hati," ibu Bono menyeka ujung matanya. "Ah iya, Bono yang biasanya memancing membawa kail dan umpan, saat itu dibawanya juga buku tulis bekas adik-adiknya. Meskipun ini tulisan adiknya, tapi sungguh, ibu sendiri yang membacanya serasa tidak percaya bahwa ini berasal dari Bono. Sangat indah, Nak." 

Yah, kalian tidak akan percaya bahwa surat ini berasal dari pemuda istimewa seperti Bono. Tapi Arif percaya dan baginya ini lebih indah dari surat cinta manapun yang tak lebih hanya berisi bualan-bualan kosong.


Sahabatku, Arif.

Terima kasih banyak karena telah percaya padaku. Aku tahu kamu akan pulang untukku. Lalu kita akan pergi bersama ke Mekkah. Tapi kalau aku sudah tidak ada, biarkan aku pergi. Hakikat cinta sesungguhnya adalah melepaskan tapi bukan melupakan. Aku ingin kamu tahu itu. Seumur hidupku, hanya kamu dan orang tuaku yang benar-benar aku sayangi dan tulus sayang padaku tidak peduli orang-orang memandangku. Mungkin kamu juga sama. Tapi ditambah Maryati.

Aku masih menunggui sawah meskipun kamu sudah tidak di sini. Juga masih mengawasi Maryati untukmu. Ah iya, dia punya banyak baju baru. Aku yakin kamu tidak akan ingat semuanya karena hampir sebulan berturut-turut ia menggunakan baju yang berbeda. Tapi karena Arif adalah teman Bono, Bono tulus melakukannya.

Sahabatku, Arif.

Terima kasih banyak telah membantuku, menemaniku sepanjang waktu. Aku ingin kita bisa memancing bersama lagi. Maaf banyak merepotkanmu.  Maaf juga tidak pernah menyebutkan namamu dengan benar. Aku menyayangimu, teman. Semoga kita bisa bertemu lagi.



Yang sudah bisa menulis,

Bono.


“Tidak apa, kawan. Kamu sungguh tidak merepotkanku.” Arif menyeka ujung matanya, mengulangi kalimat favoritnya yang sering diucapkan Bono. “Karena Arip adalah teman Bono.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021