Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

Percayakah Kau Padaku?

Tahukah kamu tentang kisah cinta Rama dan Shinta yang ternyata berakhir tak bahagia? Aku baru tahu sekitar setahun lalu. Seperti yang dikisahkan Paman Tere-Liye dalam novelnya. Dia tidak mengangkat manisnya kisah cinta Rama-Shinta seperti yang dielukan banyak orang. Tetapi dia memulainya setelah Rama berhasil merebut kembali Shinta dari Rahwana. Cerita mahsyur itu, setidaknya kalian pernah mendengar. Dari bisik-bisik kotor rakyatnya, Rama khawatir akan Shinta yang berbulan-bulan tinggal di Alengka, kerajaan Rahwana. Dia menduga-duga banyak hal. Tetapi ketahuilah, Rama. Dusta  takkan  bercampur  dengan  jujur Hina  takkan  bercampur  dengan  mulia Oh, minyak takkan pernah menyatu dengan air Kebaikan  takkan  bercampur  dengan  keburukan Kesetiaan  takkan  bercampur  dengan  pengkhianatan Oh, Dewi Shinta takkan pernah menyatu dengan gadis hina Maka diadakanlah ujian kesucian dan Dewi Shinta lolos d...

Aku dan Orbitmu

Izinkan aku berpindah ke orbitmu agar lintasan kita sama. Izinkan aku menyapamu, saat kita bertemu dalam garis yang sama. Tetapi, bolehkah? Maksudnya, apakah kau akan meresponsku? Seperti saat aku menyapamu, akankah kau membalasku? Atau hanya tersenyum sambil tak berhenti berotasi pada porosmu itu? Kita mengelilingi pusat yang sama. Hanya lintasan kita yang berbeda. Lalu jika aku ingin berpindah ke orbitmu, apa kau mengizinkannya? Mungkinkah kita berbagi lintasan bersama? Ah, tapi tidak jadi. Kau sepertinya tidak sudi. Lagipula setelah dipikir-pikir lagi, ada baiknya jika aku tetap disini. Menunggu banyak waktu untuk segaris denganmu lagi. Daripada aku pindah ke lintasanmu, yang mungkin sebelum aku sampai ke situ, diriku akan musnah terlebih dahulu, karena penguasa semesta yang tidak memberi restu. Apa kau bisa membayangkan betapa mengerikannya untukku, hanya agar bisa seorbit denganmu? n.a.

Obat Luka

Bicara tentang luka, siapa yang tidak pernah punya luka? Banyak jalan bagi kita untuk mendapatkan luka. Meski bukan berarti kita menginginkannya. Bicara tentang luka, semua luka sejatinya menyakitkan. Baik terasa di awal, tengah, maupun akhir, semuanya sama bagi para penderita. Bicara tentang luka, aku selalu menemui seorang teman untuk membahas para luka. Karena dia adalah ahlinya menangani mereka. "Lukaku terkelupas." Ucapku mengawali pembicaraan. "Lagi? Untuk yang ke berapa kali?" Ujarnya sedikit khawatir. Aku menaikkan bahu, tidak kuhitung. "Kenapa bisa terkelupas lagi?" "Mungkin aku terlalu mengkhawatirkannya. Sehingga tanpa kusadari aku sendiri mendekati luka itu." "Jadi mulai sekarang, menjauhlah." Ucap temanku sambil menghirup aroma kopinya. "Sudah kucoba. Tapi bagaimana jika bekasnya tidak hilang?" Dia diam sejenak, lantas berdiri dari kursinya. "Kau harus menunggu berjalannya waktu sampai kau...

Kerudung Hitam

Aku memperhatikannya Sorot mata yang tak biasa Ribuan pilu dari sepasang bola mata Tetapi semoga hanya prasangka Jika pilu hanya prasangka Rindu pasti bukan hanya duga Jika sedih hanya sementara Semoga bahagia hadir selamanya Tetapi bagaimanapun, pilu akan hadir Sedih akan mampir Sekalipun hanya sekilat es mencair Dan aku memilih untuk tidak menyingkir Karena kau disitu, aku tahu Kenapa tak kau perlihatkan dirimu? Wanita yang biasa kau panggil ibu itu sangat merindukanmu Ia mengusap muka berkali-kali Meski bibirnya mengikuti Tetapi hatinya meyakini Bahwa kau masih disini Wanita itu memalingkan muka dari keramainan Dari balik kerudung hitam, ia menyeka air mata kerinduan yang meluncur tak tertahankan Yang tanpa sadar juga kulakukan n.a . 05 Desember 2015