Langsung ke konten utama

Percayakah Kau Padaku?

Tahukah kamu tentang kisah cinta Rama dan Shinta yang ternyata berakhir tak bahagia?
Aku baru tahu sekitar setahun lalu.

Seperti yang dikisahkan Paman Tere-Liye dalam novelnya.
Dia tidak mengangkat manisnya kisah cinta Rama-Shinta seperti yang dielukan banyak orang. Tetapi dia memulainya setelah Rama berhasil merebut kembali Shinta dari Rahwana. Cerita mahsyur itu, setidaknya kalian pernah mendengar.

Dari bisik-bisik kotor rakyatnya, Rama khawatir akan Shinta yang berbulan-bulan tinggal di Alengka, kerajaan Rahwana. Dia menduga-duga banyak hal.

Tetapi ketahuilah, Rama.

Dusta  takkan  bercampur  dengan  jujur
Hina  takkan  bercampur  dengan  mulia
Oh, minyak takkan pernah menyatu dengan air

Kebaikan  takkan  bercampur  dengan  keburukan
Kesetiaan  takkan  bercampur  dengan  pengkhianatan
Oh, Dewi Shinta takkan pernah menyatu dengan gadis hina

Maka diadakanlah ujian kesucian dan Dewi Shinta lolos dengan mudah. Sekalipun ia  berhasil, tapi  itu  tidak  pernah  memadamkan  resah  di  hati orang-orang yang tidak mau percaya. Terhitung Rama.

Shinta menjalani pembuangan selama sepuluh tahun untuk membuktikan cinta abadinya untuk Rama sudah kehilangan akal sehatnya.

Dalam pembuangan itu, Shinta hamil dan melahirkan dua putra kembar.

Sepuluh  tahun  berlalu,  Rama  tidak  pernah  kunjung  berhasil  memadamkan  api kecurigaan,  prasangka  buruk  pada  istrinya  sendiri,  dan  itu  semakin  rusak  oleh mudahnya  dia  percaya  bisik-bisik  kotor  orang  di  sekitarnya.  Apakah  Rama  tahu  ini  hari penghabisan  masa  pembuangan  Shinta?  Dia  bahkan  setiap  saat  menghitung  hari,  tidak sabaran.  Apakah  Rama  masih  rindu  kepada  istrinya?  Dia  bahkan  setiap  saat  menyebut nama  istrinya.  Tetapi  resah,  curiga,  menghapus  itu  semua.  Sia-sia  Shinta  menunggu suaminya  datang,  bagai  menunggu  nasi  tanak  menjadi  matang  tanpa  api  di  bawah periuknya.

Satu hari berlalu. Satu  minggu.  Satu  bulan,  bahkan  sekarang  satu  tahun  lebih,  Shinta mulai  menatap  putus  asa  gerbang  perkampungan.  Tubuhnya  kurus  kering,  dia  menolak makan.  Wajahnya  pucat,  dan  rambutnya  mulai  rontok  oleh  kesedihan.  Kecantikan  itu masih  bersisa  banyak,  tapi  pengharapan  yang  tak  kunjung  berujung  menghabisi  banyak hal.

Penghuni  padepokan  juga  ikut  sedih  menyaksikan  Shinta  yang  terus  menunggu.  Dua anak  kembarnya  yang  setahun  terakhir  terus  bertanya-tanya  kenapa,  ada  apa  gerangan Ibunya  terlihat  sedih  berkepanjangan,  juga  ikut  sedih.  Dan  kapiran  urusan,  persis  usia mereka  menginjak  dua  belas  tahun,  Lawa  dan  Kusa  menemukan  catatan  milik  Resi Walmiki, syair tentang Rama dan Shinta, kisah awal Ramayana.

Dua anak kembar itu tahu.

Kau  tahu  rahasia  besar yang  paling  mengerikan  dari  pusaka  busur  Dewa  Brahma  milik  si  kembar:  kebencian. Busur  itu  akan  berlipat-lipat  menjadi  lebih  hebat  saat  dipegang  oleh  orang  yang memiliki alasan kebencian yang sah,  berhak,  dan  direstui terbalaskan. Apalagi  yang  tidak  mereka  miliki  sekarang  selain  kebencian  yang  menggunung?  Mereka tahu,  Ibu  mereka  dibuang  sepuluh  tahun  oleh  Ayahnya  sendiri  hanya  karena  prasangka. Tidak  cukupkah  semua  pengorbanan  Ibunya  selama  ini?  Tidak  cukupkah  ujian  api  suci yang  bahkan  bisa  membakar  seorang  dewa  pendusta?  Sekarang,  saat  masa  pembuangan itu telah berlalu,  tidak tergerakkah  hati  Ayahnya datang  menjemput?

Lawa dan Kusa akhirnya menemui Rama yang bahkan tidak mengetahui bahwa mereka berdua adalah anaknya. Singkat cerita, Shinta juga ikut ke Ayodya, melarang anak-anaknya bertarung melawan Ayahnya sendiri.

Tapi apa dikata, Shinta justru mendapat pernyataan yang membuatnya makin tercabik.
Rama tidak percaya bahwa kedua anak kembar itu adalah anaknya.

Apalah artinya cinta jika tanpa sebuah kepercayaan?

Semua  ini tidak  akan  pernah  berakhir.  Semua  ini  hanya  mengulur-ngulur  waktu,  dan  dia terjebak  atas  harapan  kosong.  Sia-sia  saja  dia  berharap  Rama  akan  kembali mencintainya seperti dulu. Tidak ada lagi cinta itu.

Sebelum  semua  orang  menyadarinya,  Shinta  menciumi  dua  anak  kembarnya  untuk terakhir  kali,  berlinang  air  mata,  lantas  melepas  pelukan,  kemudian  berlari  menjauh dari Rama,  dari kerumunan orang-orang,  sambil berseru-seru, “Oh  Ibu,  oh  ibu  pertiwi,  dengarkan  anakmu.  Dengarkan  anakmu.”  Shinta  memanggil keadilan.

Resi  Walmiki  yang  bijak  menelan  ludah.  Dia  tahu  sekali  apa  yang  akan  dilakukan  Shinta. Itulah ujian terbesar yang bisa dilakukan manusia. Itulah bukti paling maksimal. Kejadian  itu,  kejadian  siang  itu  dibekukan  oleh  syair  yang  akan  dikenang  ratusan  tahun kemudian. “Oh  Ibu,  belahlah  tanahmu,  belahlah  perutmu.”  Shinta  berlari,  kakinya  tertekuk  sudah, tapi dia tak peduli, Shinta tersungkur, kakinya tak kuat lagi.

Sungguh dia masih cinta, tapi buat apa? Bukankah cinta tak pernah dibungkus ketidakpercayaan. Rama  yang  menyadari  apa  yang  hendak  dilakukan  Shinta  loncat  panik.  Rama  terbang dengan segala pesonanya. Shinta  tersungkur,  tangannya  mencabik-cabik  tanah,  debu  mengepul  beterbangan, mulutnya lirih nian membaca mantera, Rama sudah amat dekat, dia tak kuasa lari lagi.

“Oh  Ibu,  bukalah  pintumu,  buktikanlah  ke  seluruh  semesta,  jika  anakmu  ini  memang ternoda,  maka  tolaklah  diriku  yang  hina,  lemparkan  aku  kembali  ke  langit  tanpa  nyawa. Tapi  jika  aku  memang  suci,  terimalah  anakmu  kembali,  aku  mohon.  Aku  sungguh  tidak kuat lagi.”

"Jangan  lakukan,”  Rama  berlutut  di  depan  Shinta,  sekejap,  akhirnya  dia  paham,  melihat Shinta yang siap melakukan pengorbanan itu, “Jangan lakukan, Shinta, demi aku.”

Tetapi  kesadaran  itu  sudah  amat  terlambat,  Shinta  bersiap  melakukan  prosesi pembuktian paling tinggi.

“Ibu, bukalah pintumu….” Shinta memukul tanah seperti orang gila.

“Dengarkan aku, Shinta." Rama yang berlutut berusaha menggapai tubuh istrinya.

“Ibu pertiwi, aku mohon.…” Shinta merangkak menjauh.

“Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak mempercayaimu.”

“Ibu, aku mohon. Aku tidak tahan lagi.”

“Kembalilah  padaku,  Shinta.  Demi  anak-anak  kita.”  Tangan  Rama  berusaha  menggapai rambut beruban Shinta yang sekarang kotor oleh debu.

Sejengkal  lagi  tangan  itu  berhasil  menahan  Shinta.  Bumi  lebih  dulu  merekah.  Sempurna sudah, terbelah dua. Shinta berurai air-mata, tak berpikir panjang langsung melompat.

Rama  terkesiap,  tangannya  menggapai  kosong.  Hendak  mengejar,  terlambat,  rekahan menganga itu kembali merapat  dalam sekejap.  Berdebum  membuat  kepulan tinggi. Hening. Hening.

Maka berakhirlah kisah cinta mahsyur Rama-Shinta karena ketidakpercayaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021