Langsung ke konten utama

Kerudung Hitam

Aku memperhatikannya
Sorot mata yang tak biasa
Ribuan pilu dari sepasang bola mata
Tetapi semoga hanya prasangka

Jika pilu hanya prasangka
Rindu pasti bukan hanya duga
Jika sedih hanya sementara
Semoga bahagia hadir selamanya

Tetapi bagaimanapun, pilu akan hadir
Sedih akan mampir
Sekalipun hanya sekilat es mencair
Dan aku memilih untuk tidak menyingkir

Karena kau disitu, aku tahu
Kenapa tak kau perlihatkan dirimu?
Wanita yang biasa kau panggil ibu itu
sangat merindukanmu

Ia mengusap muka berkali-kali
Meski bibirnya mengikuti
Tetapi hatinya meyakini
Bahwa kau masih disini

Wanita itu memalingkan muka dari keramainan
Dari balik kerudung hitam, ia menyeka air mata kerinduan
yang meluncur tak tertahankan
Yang tanpa sadar juga kulakukan

n.a.
05 Desember 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021