Langsung ke konten utama

Obat Luka

Bicara tentang luka,
siapa yang tidak pernah punya luka?
Banyak jalan bagi kita untuk mendapatkan luka.
Meski bukan berarti kita menginginkannya.

Bicara tentang luka,
semua luka sejatinya menyakitkan.
Baik terasa di awal, tengah, maupun akhir,
semuanya sama bagi para penderita.

Bicara tentang luka,
aku selalu menemui seorang teman
untuk membahas para luka.
Karena dia adalah ahlinya menangani mereka.

"Lukaku terkelupas." Ucapku mengawali pembicaraan.

"Lagi? Untuk yang ke berapa kali?" Ujarnya sedikit khawatir.

Aku menaikkan bahu, tidak kuhitung.

"Kenapa bisa terkelupas lagi?"

"Mungkin aku terlalu mengkhawatirkannya. Sehingga tanpa kusadari aku sendiri mendekati luka itu."

"Jadi mulai sekarang, menjauhlah." Ucap temanku sambil menghirup aroma kopinya.

"Sudah kucoba. Tapi bagaimana jika bekasnya tidak hilang?"

Dia diam sejenak, lantas berdiri dari kursinya.

"Kau harus menunggu berjalannya waktu sampai kau melupakan bekas itu dan menganggapnya seperti tidak ada."

Kurasa dia sedang mabuk kopi. Sebegitu mudahnya dia bicara. Si pecandu kopi itu menuju barista untuk memesan kopi lagi.

"Tidak ada cara lain? Bagaimana jika suatu hari aku melihatnya dan mengingatnya lagi?"

"Yeah, kalau begitu kau harus terbiasa sampai ketika kau melihatnya lagi, bekas luka itu akan terlihat biasa saja dan tidak membuatmu gelisah."

Itu adalah cangkir kopi kedua yang dipegangnya.

"Atau..."

Aku memperhatikannya menyeruput kopi pelan.

"Cari saja obatnya."

Dia memberi kode dengan melirik ke luar dinding kaca sembari meletakkan cangkir kopinya. Cih, aku berdecak pelan. Dia tertawa.

"Tapi semuanya tentang waktu, Sha."

Kami terdiam selama beberapa detik.

"Ah, apakah aku setampan mereka? Anak-anak itu beruntung sekali punya wajah tampan." Tanyanya ragu sambil melirik kembali ke arah luar. Merapikan rambut dan tertawa renyah.

Aku mengikuti arah matanya, tetapi tidak sampai ke arah yang ditunjuknya. Aku berhenti pada bola matanya itu selama beberapa detik.

Kemudian aku tertawa mengejek diriku sendiri.
Yang baru saja menyadari bahwa obat luka untukku adalah kau.
Pria yang selalu berada di depanku saat aku bercerita tentang luka.

n.a.
2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021