Langsung ke konten utama

Aku dan Orbitmu

Izinkan aku berpindah ke orbitmu
agar lintasan kita sama.
Izinkan aku menyapamu,
saat kita bertemu dalam garis yang sama.

Tetapi, bolehkah?
Maksudnya, apakah kau akan meresponsku?
Seperti saat aku menyapamu, akankah kau membalasku?
Atau hanya tersenyum sambil tak berhenti berotasi pada porosmu itu?

Kita mengelilingi pusat yang sama.
Hanya lintasan kita yang berbeda.
Lalu jika aku ingin berpindah ke orbitmu,
apa kau mengizinkannya?
Mungkinkah kita berbagi lintasan bersama?

Ah, tapi tidak jadi.
Kau sepertinya tidak sudi.
Lagipula setelah dipikir-pikir lagi,
ada baiknya jika aku tetap disini.
Menunggu banyak waktu untuk segaris denganmu lagi.

Daripada aku pindah ke lintasanmu,
yang mungkin sebelum aku sampai ke situ,
diriku akan musnah terlebih dahulu,
karena penguasa semesta yang tidak memberi restu.

Apa kau bisa membayangkan betapa mengerikannya untukku,
hanya agar bisa seorbit denganmu?

n.a.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021