Aku mengangguk, tidak apa. Padahal iya. Yang kurasa kini hanya luka. Aku tersenyum samar. Padahal benar. Sekujur hatiku terlanjur memar. Aku tertawa lepas. Padahal asaku jatuh terhempas. Tidak bersisa, tinggal ampas. Aku berlagak angkuh. Padahal air mataku pun jatuh. Ketika menyadari kamu begitu jauh. Dan tak lagi bisa kusentuh. Padahal dulu ingin kuceritakan semua. Tetapi kini biar aksaraku yang berbicara. Sebab bibirku tak lagi kuat berkata perihal kita. n.a.
— 𝒃𝒆𝒓𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒍𝒆𝒘𝒂𝒕 𝒂𝒌𝒔𝒂𝒓𝒂