Ia bilang padaku bahwa cerita ini dimulai ketika kamu memberi ruang padanya untuk tumbuh seiring berjalannya hari.
Ia juga ingat bahwa kamu memintanya kuat melalui ini.
Kemudian ia mengangguk, menyanggupi.
Dan ia tinggal di dekatmu dengan senyum paling berseri.
Sebelum tiba-tiba kamu menyuruhnya pergi.
Lalu dengan mudah kamu tertawa lagi.
Sementara ia masih terlantung di jalan setapak ini.
Menanti, kapan dapat bertamu lagi.
Tetapi kamu bilang padanya, "Sudah, tidak ada yang bisa dinanti. Aku ingin sendiri."
Jadi perlahan ia merangkak pergi.
Tertatih melewati sunyi.
Berkali-kali goyah sebab kenangan denganmu tak jarang menghampiri.
Tapi ia tidak mungkin kembali.
Sebab sudah terlalu jauh melangkahkan kaki.
Dan ruang yang pernah kamu beri, musnah begitu saja kini.
Ia tahu bahwa dirinya telah dibodohi.
Tidak ada yang benar-benar ingin sendiri.
Sebenarnya aku sudah tahu.
Jauh sebelum ia mengakui ceritanya padaku.
Aku tahu.
Bagaimana kamu membuatnya seperti itu.
Aku tahu.
Sebab ia adalah rasaku,
yang sia-sia bagimu.
n.a.
Maret, 2017.
Komentar
Posting Komentar