Langsung ke konten utama

Menanti Hujan Reda

Aku duduk di depan secangkir kopi panas.
Berteman rintik hujan yang menderas.
Sembari memasang lagu di telinga.
Menanti hujan reda.

Sejenak terlintas kamu di memoriku.
Mungkin karena laguku yang sendu.
Seharusnya kubuang saja ingatan itu.
Aku benci pernah sebahagia itu di dekatmu.

Akhirnya kamu dan kenangan itu singgah lebih lama.
Terlebih saat tidak sengaja terputar lagu kita.
Jadi kubiarkan mereka mendekam dalam kepala.
Menemaniku hingga hujan reda.

Aku tidak apa-apa, sudah kubilang.
Ini hanya sampai hujan menghilang.
Selepas itu, semuanya akan kembali dalam penyimpanan.
Tertumpuk dalam sehingga menyentuhnya pun enggan.

Tetapi hujan tidak kunjung berhenti.
Aku sudah bosan menanti.
Sementara kenangan terus saja membanjiri.
Dan tidak ada cara bagiku untuk menghindari.

Maaf, Tuhan.
Tetapi hujan memang sialan
bagi kami para anti-kenangan.

Aku tercenung lama, sedikit bernostalgia.
Hingga akhirnya hujan reda.
Yang tersisa hanyalah hujan baru,
di pelupuk mataku,
karena rindu.

n.a. - [2017]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021