Aku duduk di depan secangkir kopi panas.
Berteman rintik hujan yang menderas.
Sembari memasang lagu di telinga.
Menanti hujan reda.
Sejenak terlintas kamu di memoriku.
Mungkin karena laguku yang sendu.
Seharusnya kubuang saja ingatan itu.
Aku benci pernah sebahagia itu di dekatmu.
Akhirnya kamu dan kenangan itu singgah lebih lama.
Terlebih saat tidak sengaja terputar lagu kita.
Jadi kubiarkan mereka mendekam dalam kepala.
Menemaniku hingga hujan reda.
Aku tidak apa-apa, sudah kubilang.
Ini hanya sampai hujan menghilang.
Selepas itu, semuanya akan kembali dalam penyimpanan.
Tertumpuk dalam sehingga menyentuhnya pun enggan.
Tetapi hujan tidak kunjung berhenti.
Aku sudah bosan menanti.
Sementara kenangan terus saja membanjiri.
Dan tidak ada cara bagiku untuk menghindari.
Maaf, Tuhan.
Tetapi hujan memang sialan
bagi kami para anti-kenangan.
Aku tercenung lama, sedikit bernostalgia.
Hingga akhirnya hujan reda.
Yang tersisa hanyalah hujan baru,
di pelupuk mataku,
karena rindu.
n.a. - [2017]
Komentar
Posting Komentar