Langsung ke konten utama

Semalam

Pukul lima pagi.

Waktu di mana sinar matahari mulai muncul dari timur, embun masih menggantung di ujung dedaunan – menunggu untuk menguap –, dan kabut masih mengganggu jarak pandang.

Pukul lima pagi.

Waktu di mana gadis itu harus bangun seperti hari-hari biasa, tetapi pagi ini tidak. Alas tidurnya tiba-tiba menjadi sangat nyaman dan selimutnya menjadi sangat hangat; tidak seperti tadi malam sebelum tidur.

Pukul lima pagi.

Bunyi peluit sudah terdengar di mana-mana, membangunkan mereka yang masih lelap. Entah karena kelelahan membangun tenda kemarin atau tidak bisa tidur semalaman dan baru bisa tidur pagi tadi karena suasana tempat tidur baru.

“Namira, bangun cepat!”

“Iya, iya, sudah bangun.” Ucap gadis yang barusan dipanggil Namira itu sambil mengulat.

“Sedari tadi bilang sudah, tapi tidak bangun-bangun! Yang lain sudah keluar, tinggal kamu saja, Na,” omel teman Namira sambil menarik selimut yang dipakainya.

“Hm, kamu duluan saja, Kei.” Kali ini Namira menguap.

“Awas saja kalau lima menit belum sampai di lapangan. Kita sekelompok bisa dihukum. Aku tidak mau!”

“Iya, sudah sana.” Balas Namira malas.

Kei menurut dengan terpaksa karena dia tidak percaya bahwa Namira akan benar-benar bangun dan menyusul kelompoknya dalam lima menit. Tapi ia bergegas keluar tenda meninggalkan Namira menuju lapangan.

Namira dengan malas memperbaiki rambutnya dan keluar tenda. Sebelum itu, dia membuka sebungkus roti dan memakannya dengan cepat. Setelah itu, karena tidak menemukan tempat sampah terdekat, ia membuangnya begitu saja di bawah pohon besar yang tidak ia ketahui namanya bersama dengan satu kantong plastik berisi sampah sisa semalam.

***

“Na, kok buang sampahnya di situ?” tegur salah seorang anggota kelompok Namira saat ia membuang plastik sosis yang akan dimasak untuk sarapan di sekitar semak belukar.

“Tidak ada yang tahu, Len. Toh, hanya sedikit.” Ucap Namira acuh.

“Awas kalau penghuninya marah.” Bisik Milen bercanda.

“Mana ada zaman sekarang cerita seperti itu?” Namira tertawa.

Saat Namira dan dua teman lainnya sedang menyiapkan sarapan, ada anak laki-laki yang berjalan dan seperti teringat sesuatu sehingga menghampiri mereka.

“Eh, ada sampah di bawah pohon dekat tenda kami. Pasti milik kalian?”

“Maksudmu apa nih, Ben? Tiba-tiba datang menuduh.” Sela Kei.

“Tadi temanku bilang begitu. Si Namira ini sepertinya.”

“Enak saja!” Namira tidak terima.

“Ya, pokoknya awas saja kalau sampai besok belum dibersihkan.” Tukas Ben.

“Sampah itu bukan milik kita. Jadi buat apa kita bersihkan? Kamu saja, kan dekat dengan tendamu.” Ucap Milen.

“Aku mengingatkan saja. Hati-hati di sini karena kita hanya menumpang dua malam. Jangan buat masalah, nanti diikuti sampai rumah.” Ben meninggalkan mereka bertiga sambil mengambil satu sosis panggang, kemudian tertawa.

“Aish, kamu yang buat masalah!” tukas Kei kesal.

Namira yang sedang memanggang sosis sebenarnya merasa bersalah namun berlagak acuh. Nanti sajalah, pikirnya.

***

Langit sudah gelap lagi. Malam ini, Namira harus bisa tidur agar bisa bangun pagi esoknya. Namun ia tiba-tiba terbangun entah di pukul berapa karena tidak sempat melihat jam.

“Kei, Kei, bangun. Antarkan aku ke kamar kecil.” Bisik Namira sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kei karena takut membangunkan delapan anak lain di dalam tenda.

“Aah, ajak yang lain saja, aku tidak bisa bangun.”

“Bohong! Ayolah, Kei,”

“Ya sudah, jangan lama-lama.”

Kei mengikuti Namira yang sudah tidak tahan ingin buang air sambil memegangi senter dan setengah tidur. Namun tiba-tiba senter yang dipegang Kei meredup. Sontak, Kei panik dan menjadi sepenuhnya sadar dari tidurnya.

“Kei, ada apa?” Namira setengah berteriak dari dalam kamar kecil.

“Kamu bawa senter lain tidak?”

“Kenapa?”

“Baterainya mau habis, kamu cepat sedikit!”

Tidak lama kemudian, Namira keluar karena memang sudah selesai. Ia menjadi ikut panik karena senter satu-satunya yang dibawa Kei memang meredup dan seperti bisa dihitung beberapa detik lagi bahwa itu akan mati sempurna.

Baru beberapa langkah dari kamar kecil, dan sempurna! Senter satu-satunya penerang jalan mereka mati.

Keduanya benar-benar panik. Berada di tengah ruang terbuka yang tidak mereka ketahui tanpa penerangan sama sekali.

“Aku tidak mau mati di sini, Na.” Kei hampir menangis.

“Eeh, bicara apa kamu?! Kamu kira aku mau?!” Namira membentak karena saking paniknya.

Mereka memutuskan untuk tidak diam saja. Maka mereka berjalan sambil bergandengan entah menuju ke mana. Namun tiba-tiba Namira tersandung sesuatu, genggamannya lepas. Pun tidak ada tanda-tanda Kei di sekitarnya.

Namira panik setengah mati. Pikiran buruknya tumpah seperti air bah. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu… Dan yang paling penting, ke mana perginya Kei?

Apa jangan-jangan semua ini seperti yang dikatakan Milen dan Ben?

Apa jangan-jangan penghuni pohon yang tidak ia ketahui namanya itu marah?

Apa jangan-jangan ia sudah berbuat hal yang tidak diinginkan?

Seharusnya tadi dia tidak membuang sampah seenaknya.

Tiba-tiba kepala Namira menjadi berat. Kemudian tubuhnya jatuh dalam gelap.

***

Entah pukul berapa saat Namira menyadari bahwa sinar matahari menyilaukan wajahnya. Ia mengerjap perlahan. Sepertinya ada sesuatu yang janggal.

Namira bergegas bangun dan duduk di tempat bekasnya tidur. Kenapa dia sudah berada di tenda? Bagaimana bisa? Tapi dia lega bisa melihat cahaya matahari.

“KEI!” Namira teringat sesuatu.

Maka bergegaslah ia keluar tenda untuk mencari Kei karena di dalam tenda hanya ada dirinya. Tapi di antara teman-temannya, tidak ditemukan sosok Kei.

“Len, lihat Kei?”

Milen menggeleng.

“Put, lihat Kei?”

Putri juga menggeleng.

“Nan, lihat Kei?”

“Tadi sih katanya mau ke tendanya Ben,” ucap Jinan. “Nah, itu dia.”

Diihatnya Kei berjalan dari jauh. Lantas tanpa ada aba-aba, Namira memeluk Kei. Masa bodo dengan tatapan aneh teman-temannya.

“Kamu semalam dari mana saja? Rasanya aku seperti mau mati, tahu!”

Kei terkejut tiba-tiba Namira seperti itu. Tapi dia hanya bisa diam karena Namira memeluknya sangat erat.

“Maaf aku memang tidak tahu aturan. Gara-gara aku, kamu hampir celaka.”

Kei semakin heran karena Namira hampir menangis.

“Kamu kenapa?” Tanya Kei keheranan.

“Aku tidak tahu bagaimana, yang penting aku senang kita berdua bisa selamat.”

Kei mengernyitkan alis. Sementara Namira semakin memeluknya erat sambil menangis haru.

Kei menatap teman-teman di sekitarnya untuk meminta penjelasan, tetapi mereka hanya menaikkan bahu alias tidak tahu.

Kei ingin bicara tapi selalu disela Namira. Katanya, dia tidak perlu menjelaskan apa dan bagaimana dia bisa kembali dengan selamat atas kejadian semalam. Padahal, Kei tidak dari mana-mana semalam. Namira juga tidur sangat lelap sampai dia tidak tega membangunkannya tadi.

“Eh, Kei, memangnya kamu di tenda Ben ngapain?” Tanya Namira sambil menyeka ingus yang keluar akibat tangisan haru tadi.

“Ngapain katamu? Aku habis membersihkan sampahmu, tahu! Aku tahu persis bahwa sampah di dekat tendanya itu sampahmu. Kita bisa kena denda. Dasar tidak bertanggung jawab!” omel Kei.

Namira seperti mendapat tamparan keras. Bukan karena omelan Kei barusan, melainkan karena ia tiba-tiba tersadar bahwa tragedi hilangnya Kei semalam hanya mimpi.

Ia menangis lagi. Kali ini karena harunya seketika berubah menjadi malu.

TAMAT

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021