“Ibu, aku pulang.”
Kalimat itu refleks terucap ketika aku sampai di pintu utama rumah yang terbuat dari kayu. Mataku terpicing, udara familiar menyapa kulitku lembut, berbisik selamat datang. Aku mendorong pintu yang berderit pelan kemudian bergerak maju selangkah demi selangkah.
“Ibu, aku pulang.” Ulangku.
Biasanya setelah mendengarku pulang, ibu segera menyuruhku ganti baju dan makan siang, seolah tahu bahwa anaknya ini sedang menahan lapar. Tetapi kali ini, tidak ada jawaban. Hanya angin yang masuk melalui celah-celah dinding kayu, membuat suara.
“Mbak?”
Aku tersadar dari lamunanku setelah seorang wanita menepuk bahuku pelan. Sepertinya dia sudah lama berada di sampingku dan mengajak bicara tetapi pikiranku tanpa sadar entah di mana. Dia adalah adikku.
“Butuh waktu lama untuk pulang ya, Mbak.” Ujarnya sambil menyeruput secangkir teh hangat. Aku mengangguk. Benar, aku butuh terlalu banyak waktu untuk kembali menginjakkan kaki di rumah ini.
“Aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri, Mbak, karena meskipun aku yang mengurus, tanah ini tetap atas nama Mbak.” Sambungnya. “Selain itu, aku juga ingin Mbak pulang sesekali.”
Aku mengangguk lagi. Sembari melihat halaman depan dijadikan anak-anak sekitar sebagai lapangan bermain bola, pikiranku terbang ke mana-mana.
“Kalau tidak boleh dijual, ya tidak apa-apa. Biar aku bilang ke temanku. Semua keputusan Mbak yang atur.”
Aku kembali mengangguk. Adikku menghela napas berat, mungkin karena kecewa dengan jawabanku. Tetapi dia hanya diam, membiarkanku menikmati déjà vu yang amat nyata.
“Banyak yang berubah ya, Dik.” Ucapku akhirnya membuka suara. Adikku menatapku sedikit lama. Entah karena heran atau antusias.
“Iya, karena 15 tahun itu sangat lama.”
Aku tersenyum. Kalimat itu membawaku menuju 20 tahun yang lalu, tepat di tempat yang sama seperti sekarang.
***
“Ibu, aku pulang.”
“Ganti baju lalu makan!” ucap ibu sedikit berteriak dari dalam dapur.
“Bapak, besok teman-temanku mau ke sini, boleh?” seorang remaja perempuan berjalan ke meja makan sambil menengok ke arah bapaknya yang sedang membuat centhak atau gelas dari bambu sembari mendengarkan gendhing-gendhing Jawa yang diputar dari radio.
“Siapa?”
“Aminah dan Sari. Gantian aku yang mengajak mereka belajar bersama di rumah.”
“Memangnya kenapa kalau kamu belajar di rumah mereka?” tanya bapak sambil masih terus melakukan pekerjaannya.
“Biar tidak merepotkan pak kiai terus. Si Aminah kan anaknya pak kiai di desa Kidul itu, Pak. Bapak pasti kenal.”
“Nduk, rumah ini tempatnya nitik, orang-orang minum tuak kumpulnya di sini. Bapak sudah sering bilang, tuak itu sangat dihindari oleh orang-orang Kidul sana. Pasti temanmu itu sudah dilarang orang tuanya untuk main di sini.” Bapak menghentikan aktivitasnya dan menatap anak perempuannya itu.
“Selalu begitu. Kenapa tidak ada temanku yang diperbolehkan main ke sini?” Protes anak perempuannya.
“Nanti kalau kamu sudah dewasa pasti tahu, Nduk.”
“Ya sudah kalau begitu Bapak berhenti jualan tuak saja.”
Bapak meletakkan alat yang dipegang dan hendak marah, namun ibu segera memanggil anak perempuannya itu untuk segera ke meja makan.
***
“Ibu, kenapa Bapak tidak berhenti jualan tuak saja? Kadang aku juga tidak suka kalau rumah ini ramai orang-orang minum tuak. Apalagi kalau sudah nanggap sindir. Teman-temanku selalu bilang orang pesisir seperti kita ini tidak tahu agama lah, apa lah. Kadang aku sakit hati mendengarnya.” Ujar Sekar, anak perempuan yang tadi siang nyaris membuat bapaknya marah.
“Kenapa mereka bilang begitu, Nduk?” tanya ibunya lembut sambil mengusap pelan kepala putrinya itu.
“Mereka bilang, percuma kita mengaji kalau tiap hari minum tuak, mabuk-mabukkan, sindiran, dan lain-lain. Makanya aku ingin bapak berhenti jualan tuak saja.”
“Sekar, kamu tahu tidak sejarahnya tuak?”
Anak perempuan itu menggeleng, menatap ibunya sedikit penasaran.
“Orang zaman dulu minum tuak untuk menghangatkan badan, seperti minuman jahe sekarang. Itulah kenapa dinamai toak atau singkatan dari noto awak. Kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi jadi jika dikonsumsi secara normal, minuman ini tidak terlalu memabukkan seperti bir zaman sekarang.”
“Tapi kenapa orang-orang Kidul sana menganggap kita tidak tahu agama seperti itu, Bu?”
“Ceritanya belum selesai, Nduk. Sejak orang Belanda datang, tuak banyak saingannya hingga akhirnya hanya tersisa sedikit orang yang tahu bagaimana rupa tuak sebenarnya. Di luar sana banyak yang membuat tuak secara asal, sehingga keasliannya diragukan. Jadi orang-orang yang berkumpul di sini bukan sekadar minum-minum saja, tetapi juga salah satu pelestarian budaya. Sama seperti Tayub yang biasanya sebulan sekali diadakan.”
“Kalau itu budaya, kenapa orang Kidul sana tidak bisa menerima?”
“Itulah kadang terjadi gesekan antara agama dan budaya. Tetapi mereka sah-sah saja bukan? Karena kita tidak mengganggu mereka, maka mereka juga tidak akan menganggu kita. Nduk, kita di sini itu hidup berdampingan.” Nasihat ibu yang sedikit membuat putrinya lega.
“Kalau tidak ada yang seperti ini, jangan-jangan dua puluh tahun lagi kamu tidak bisa melihat tuak yang asli, atau tidak ada yang menampilkan Tayub, lalu kamu pasti tidak akan mendengar gendhing-gendhing Jawa sesering sekarang.”
“Begitu ya, Bu?”
“Iya, Nduk. Jadi itulah kenapa bapakmu juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini karena sudah menjadi tradisi juga di keluarga bapak.”
“Berarti kalau aku besar nanti, juga meneruskan bapak seperti ini?”
Ibu tertawa. “Bukan begitu juga. Budaya itu bisa dilestarikan dengan berbagai cara. Misalnya kamu jalan-jalan ke luar negeri sambil memperkenalkan tradisi khas Tuban, atau kamu bisa menulis buku tentang kebudayaan yang lain. Biar semua tahu kalau budaya ini milik kita dan kita bangga memilikinya."
Sekar mengangguk takzim. “Kalau begitu aku akan menjelaskan ke teman-temanku agar mereka tidak salah paham dengan orang pesisir seperti kita.”
“Iya, Nduk. Minta maaf juga ke bapakmu.” Pungkas ibu mengakhiri ceritanya malam ini.
***
Apa mau dikata. Semua berbeda dengan harapan Sekar. Setelah dia bercerita seperti yang diceritakan ibunya, ia justru mendapat olokan dari teman-temannya. Sebab Sekar adalah kaum pesisir minoritas yang bersekolah di daerah Kidul.
Sekar pulang dengan suasana hati yang berantakan. Sesampainya di rumah, ia justru mendapat tekanan dari bapaknya yang menyuruhnya bergabung ke pertunjukan Tayub.
“Tidak mau, Bapak. Sudah cukup Sekar menahan semuanya. Kali ini Sekar tidak mau.”
“Kamu sudah besar, Nduk. Nurut sama bapak.”
“Justru karena Sekar sudah besar, Sekar tahu apa yang harus Sekar lakukan.”
“Kamu mau melakukan apa, hah? Disuruh seperti itu saja tidak mau.”
“Sekar mau melakukan banyak hal di luar sana. Sekar tidak mau melulu di sini.”
“Kamu malu dengan pekerjaan bapak? Ya sudah, lulus sekolah kamu ikut saja pamanmu di ibukota sana! Tidak usah pulang.” Bapak bergegas berdiri dan meninggalkan Sekar bersama ibu di ruang tengah.
“Bapak!” seru ibu yang sedari tadi diam melihat perdebatan kedua orang keras kepala itu.
Sekar menangis sesenggukan di pelukan ibunya.
“Sekar tidak mau menyakiti hati bapak, Bu. Tapi Sekar sungguh tidak ingin menjadi apa yang diinginkan bapak tadi.”
“Iya, Nduk, Ibu tahu. Bapak juga mau yang terbaik buat kamu.” Ucap ibu berusaha menenangkan anak sulungnya yang sama keras kepalanya dengan sang bapak.
Pada akhirnya, anak perempuan yang keras kepala itu menuruti perintah bapaknya untuk pergi jauh dan tidak usah pulang.
***
20 tahun berlalu dan anak perempuan yang keras kepala itu adalah aku.
“Mbak jahat sekali waktu itu. Ibu sampai berhari-hari menangis.”
“Iya jahat sekali aku.” Air mataku jatuh di sela tawa.
“Mbak juga bohong padaku akan sering-sering pulang. Nyatanya cuma mengirim paket. Di rumah agak lama juga hanya waktu ibu tidak ada. Setelah itu, hilang lagi.”
Lima tahun kepergianku dari rumah, aku mendapat kabar bahwa ibuku telah meninggal. Tentu saja aku terpuruk sekali. Aku berniat tinggal sedikit lebih lama, namun bapakku masih saja seperti dulu. Jadi aku memutuskan untuk pergi lagi. Setelah 15 tahun yang cukup lama, akhirnya aku kembali.
Meski begitu, setelah mendapat pekerjaan di ibukota, aku rutin mengirim uang ke rumah untuk keperluan sehari-hari karena kudengar kabar bahwa usaha bapak tidak lagi lancar dan adikku butuh banyak biaya untuk melanjutkan sekolah.
“Mbak, kalau tidak keberatan, sebenarnya bapak ingin bertemu.”
Aku diam. Perasaan bersalah tiba-tiba menusuk dadaku. Aku berjanji akan memperlakukan bapak dengan baik.
“Iya, nanti aku ke rumahmu.” Kata-kata itu secara spontan keluar dari mulutku.
Bapak tinggal bersama adikku sejak sakit-sakitan. Adikku rajin mengabari apa yang terjadi di rumah sehingga meski jauh, aku tahu keadaan bapak.
“Saras, rumah ini jangan dijual.” Ucapku memecah keheningan.
“Dulu bapak ingin aku menjadi penari Tayub sebab takut budaya yang turut beliau lestarikan menghilang. Jadi aku ingin merenovasi rumah ini menjadi sanggar seni supaya rumah bapak bisa hidup lagi seperti dulu. Bagaimana menurutmu?”
Adikku menatapku antara heran dan tidak percaya.
“Kamu tahu alasanku membuat blog tentang perjalananku ke daerah-daerah?” Saras menggeleng, takzim mendengarkan.
“Sebab aku ingin menuruti keinginan bapak dengan cara lain yang pernah ibu katakan padaku.”
“Ibu bilang apa?” tanya Saras penasaran.
“Ibu bilang, aku bisa jalan-jalan ke luar negeri sambil memperkenalkan tradisi khas Tuban, atau bisa menulis buku tentang kebudayaan yang lain. Karena aku belum bisa ke luar negeri, jadi aku jalan-jalan ke daerah saja sambil menulis di blog, siapa tahu suatu saat bisa menjadi buku.” Aku baru menceritakan cerita konyol itu kepada Saras. Kami lantas tertawa bersama, tetapi rumah ini terlalu luas hanya untuk tawa dua orang.
Tiba-tiba hujan turun. Aku melirik halaman samping yang dulu dibangun tenda untuk tradisi nitik atau minum tuak. Orang-orang semakin banyak berkumpul ketika hujan turun karena mereka butuh minuman untuk menghangatkan badan.
Kini hanya ada aku dan adikku di teras rumah sambil melihat anak-anak yang bermain bola tadi kabur satu per satu karena hujan.
“Mbak, setelah ini menulis tentang Tuban, ya. Cantumkan nama Saras jangan lupa.” Pinta Saras yang kubalas dengan tawa. Lalu entah kenapa ia mendengus kecewa.
Tentu, Saras, aku akan menulisnya tanpa kamu minta. Sebab perjalananku kali ini sampai pada titik awalnya. Aku berkeliling ke penjuru negeri, namun pada akhirnya aku tetap kembali. Aku bertemu banyak orang, namun pada akhirnya rumahku tetap tempat berpulang.
Aku menuliskan sebuah paragraf yang terinspirasi dari radio bapak dulu yang isinya hanya gendhing-gendhing Jawa. Aku menamainya sebagai Analogi Sebuah Elegi.
Bersamaan dengan menulisnya, aku menemani bapak yang terbaring lemah di tempat tidur. Kelak, aku akan tahu bahwa ini adalah waktu terakhirku menemani bapak.
“Gendhing-gendhing yang kudengarkan setiap pagi itu menjelma elegi. Sebagai analogi patah hati, sebagai sesuatu yang ditinggal pergi sebab tidak lagi berarti. Hatiku patah sebab tidak ada lagi yang tersisa untuk dikenang. Bahkan terlalu cepat hilang seperti malam menjadi siang. Kelak akan ada pertanggungjawaban kepada nenek moyang tentang akal budi mereka yang terbuang. Jika kamu hanya diam, bukankah mereka akan berang?”
SELESAI
Iki sing juara 1 iku yo nyet?
BalasHapus