Langsung ke konten utama

Setahun Lalu

Hari ini tepat setahun lalu.
Aku justru berharap kamu lupa.
Mungkin kita yang terlalu terburu waktu.
Sehingga keputusan itu datang begitu saja.

Lewat angin yang mendesir.
Dan gulungan ombak yang bersyair.
Aku dan kamu telah menjadi takdir.
Yang kemudian ditetapkan untuk sekadar mampir.

Aku teramat bahagia sampai benar-benar lupa.
Bahwa fana ini akan rusak dengan segera.
Aku terjerembap dalam rasa yang lewat dari semestinya.
Tidak bisa menghindar untuk jatuh dan terluka.

Hari ini tepat setahun lalu.
Kamu mulai menggenggam tanganku untuk hari-hari baru.
Tetapi hari ini aku harus tahu.
Genggamanmu sungguh bukan lagi untukku.

Dan kamu harus tahu.
Kelak, sajakku juga bukan lagi untukmu.

n.a.
27 Mei 2017.

Komentar

  1. Nyet.. kau bangkitkan rindu setahun yg lalu.
    Seketika menusuk, menghujam kalbu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021