Langsung ke konten utama

Rahasiaku dengan Puisi

Seringkali terjadi siklus hujan ketika awan dalam pikiranku mulai berkumpul dan menghitam. Terkadang turun menjadi hujan aksara, meski tak jarang menjadi air mata.

Ketika hujan aksara itu turun, tetesnya akan bermuara di ujung jemari. Lantas mengalir seiring dengan imajinasi, yang kemudian menjelma menjadi bait-bait puisi.

Tidak mengapa seperti bercerita kepada diri sendiri. Asal kegelisahanku berhenti membelah diri. Tidak mengapa tidak ada yang mengerti. Agar rahasiaku tetap tersimpan rapi dalam bait-bait puisi.

Tetapi aku sadar diri dengan bahasaku yang tidak terlalu tinggi. Jadi jika kamu mengerti, bolehkah kamu berpura-pura tidak mengetahui?

Sebab segala yang kuceritakan melalui jemari adalah rahasiaku dengan puisi. Yang diam-diam kualirkan melalui aksara-aksara yang berjejer rapi. Agar hujan dalam pikiranku segera berhenti.

n.a.
Agustus, 2017.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021