Langsung ke konten utama

Syair Pendusta

Syair ini ditujukan kepada orang yang selalu dilihatnya dari seberang sana.
Yang sama sekali tidak pernah menengokkan kepala.
Ada kalanya ketika dia ingin melakukan hal yang sama, mungkin ini saatnya.
"Raib sajalah rasa," pelan sekali dia mengucap mantra.

Seberapa berhasilkah mantra itu?
Aku dan dia sendiri ingin tahu.
Namun kami harus menunggu waktu
Guna memastikan raibkah rasa itu; atau semakin memburu.

Pernahkah kalian bertemu seorang pendusta?
Entah itu perkataan atau tindakan sama sekali tidak imbang dengan niatan.
Entah itu pikiran atau perasaan sama sekali tidak pernah diutarakan.
Di dalamnya termasuk juga orang-orang yang selalu berlawanan dengan yang hati nuraninya bilang.

Nama gadis yang mengucap mantra itu adalah Azura.
Dia mengatakan padaku bahwa mungkin mantra itu akan berguna.
Meski sering tidak sejalan, kali ini untuk beberapa alasan, aku meyakinkannya, bahwa dia akan segera lupa.
Meski orang-orang di sekitar meremehkannya.

Mereka bilang dia hanya membual saja.
Mantra itu tidak akan membuat dia lupa,
melainkan semakin mempertebal rasa.
Mereka bahkan tidak bisa mendengarku tetapi terus menyalahkan Azura.
Padahal dia berkata padaku dengan sungguh-sungguh bahwa dia ingin lupa dengan orang di seberang sana.

Ketahuilah.
Meski Azura seorang pendusta, kata hatinya tidak pernah berdusta.

Dan aku adalah kata hati Azura yang sedang berbicara.

n.a.
2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021