Syair ini ditujukan kepada orang yang selalu dilihatnya dari seberang sana.
Yang sama sekali tidak pernah menengokkan kepala.
Ada kalanya ketika dia ingin melakukan hal yang sama, mungkin ini saatnya.
"Raib sajalah rasa," pelan sekali dia mengucap mantra.
Seberapa berhasilkah mantra itu?
Aku dan dia sendiri ingin tahu.
Namun kami harus menunggu waktu
Guna memastikan raibkah rasa itu; atau semakin memburu.
Pernahkah kalian bertemu seorang pendusta?
Entah itu perkataan atau tindakan sama sekali tidak imbang dengan niatan.
Entah itu pikiran atau perasaan sama sekali tidak pernah diutarakan.
Di dalamnya termasuk juga orang-orang yang selalu berlawanan dengan yang hati nuraninya bilang.
Nama gadis yang mengucap mantra itu adalah Azura.
Dia mengatakan padaku bahwa mungkin mantra itu akan berguna.
Meski sering tidak sejalan, kali ini untuk beberapa alasan, aku meyakinkannya, bahwa dia akan segera lupa.
Meski orang-orang di sekitar meremehkannya.
Mereka bilang dia hanya membual saja.
Mantra itu tidak akan membuat dia lupa,
melainkan semakin mempertebal rasa.
Mereka bahkan tidak bisa mendengarku tetapi terus menyalahkan Azura.
Padahal dia berkata padaku dengan sungguh-sungguh bahwa dia ingin lupa dengan orang di seberang sana.
Ketahuilah.
Meski Azura seorang pendusta, kata hatinya tidak pernah berdusta.
Dan aku adalah kata hati Azura yang sedang berbicara.
n.a.
2016
Komentar
Posting Komentar