Langsung ke konten utama

Sesuatu di dalam Cermin

Kita bercerita setiap hari, tentang ini dan itu, tentang segala hal.
Sebegitu seringnya sampai aku mengetahui semua tentangmu, juga sebaliknya.
Tetapi kau adalah sesuatu di dalam cermin yang tidak bisa kusentuh.
Dan aku hanya bisa melihatmu dari jauh.

Seseorang telah kau izinkan masuk ke dalam sana, menemanimu.
Gerak-gerikmu yang mencurigakan membuatku takut.
Benar saja, kau semakin menjauh dari cerminku.
Tidakkah kau ingin melihatku sekali lagi sebelum kau benar-benar pergi? Aku belum dan tidak ingin siap.

Aku sebegitu inginnya memelukmu, merasakan genggaman tanganmu.
Tetapi kau adalah sesuatu di dalam cermin yang tidak bisa kusentuh.
Dan tak bisa kujadikan nyata sekalipun cermin itu telah kupecahkan.
Membuatku menyesal karena kelak aku semakin mustahil melihatmu.

Tidakkah kau ingin melihatku seperti aku ingin melihatmu?
Sebegitu inginnya aku sampai tenagaku habis untuk menangis.
Sebegitu rengsanya aku sampai pecahan-pecahan cermin itu kubiarkan melukai kakiku.
Dan mereka kembali menatapku dengan tatapan sarkastik.

Kau
sesuatu di dalam cermin
yang sudah remuk tetapi masih sanggup mengejekku

sebegitu rindunya aku kepadamu
sampai bendungan rinduku rasanya hampir meluap.

n.a.
Maret, 2016

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021