Langsung ke konten utama

Ketakutan

Dia terlalu takut mendengar hal yang sejujurnya ingin dia dengar darimu.
Pun dia tidak ingin membuka lembaran yang telah lalu.
Jadi dia hanya tenggelam dalam pikiran yang sia-sia.

Kamu tidak pernah bercerita tentang hal itu kepadanya. Dia justru mendengarnya dari orang asing.
Tetapi kalimat ini menamparnya, memangnya dia siapa?
Berkali-kali gadis itu merenungkan kalimat tersebut.
Benar, dia bukan siapa-siapa bagimu.
Tetapi kamu telah memberinya harapan yang membuatnya berhak tahu segala tentang kamu.
Lalu kamu kembali membuatnya bertanya, memangnya dia siapa?
Tidak ada yang bisa menjelaskannya dengan baik selain kamu.

Mungkin kamu masih menginginkan selain dia.
Mungkin juga dia tidak bisa membuatmu berpaling.
Atau mungkin keberadaannya hanya sebagai teman saat kamu butuh saja.

Prasangka-prasangka itu telanjur membunuhnya.
Membunuh segala kepercayaan yang ia tanam dengan susah payah.
Dia tidak ingin lagi. Sungguh tidak ingin jika itu bukan kamu.
Tetapi ia membuka hati sekali lagi.
Membangun tembok yang telah runtuh berulang kali.

Prasangka-prasangka itu tidak cukup membuat hatinya puas. Justru membuatnya mati kehausan.
Tetapi sekali lagi, dia terlalu takut mendengar hal yang sejujurnya ingin dia dengar darimu.

Dia sungguh percaya.
Hingga berjalan sebegitu jauhnya.
Dia tidak ingin melepasmu begitu saja.
Dia hanya ingin menjauhkan diri dari prasangka.

Maafkan dia karena berbohong semuanya baik-baik saja.
Dia hanya ingin kamu bahagia.
Dengan pilihanmu.
Dengan jalan pikiranmu.
Tetapi jika terus begitu,
gadis yang menggenggam tanganmu lebih dulu itu telah bersiap jika memang harus melepasmu.

Jiwanya kini rapuh.
Hatinya tak lagi kuat bersauh.
Bahkan kerikil dapat membuatnya terjatuh.

Bagi kamu, tentu saja tidak sulit melepas sesuatu yang tidak pernah kamu genggam.
Tidak seperti meruntuhkan sesuatu yang telah kamu bangun dengan mati-matian.

Gadis itu berbohong bahwa ingin segera menjemput mimpi.
Padahal dia sama sekali tidak bisa memejamkan mata malam ini.
Sebab tiap kali terpejam, ujung matanya mendadak basah hingga membuatnya tersedu.
Dia terlalu takut mendengar hal yang sejujurnya ingin dia dengar darimu.

- dari cerita temanku, berbulan-bulan lalu.
Juli, 2018.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021