Langsung ke konten utama

Elegi Tak Berkesudahan

Mengenalmu seperti daun yang disinggahi embun
Daun tidak bisa bertemu embun yang sama sekalipun dia sangat menginginkannya

Dirimu adalah embun itu
Dan aku daunnya
Daun yang terlalu mencintai mentari
Tak peduli dengan embun yang hidupnya tak sampai sehari
Tapi setelah itu merindukannya setengah mati

Daun itu paham pada akhirnya
Meskipun ribuan embun yang singgah pada tubuhnya
Ia tak bisa bertemu embun yang sama sekalipun dia sangat menginginkannya

Menciptakan elegi tak berkesudahan
selayaknya hari ini
Kira-kira seperti hal penting yang pergi
ke planet yang tak kauketahui
yang berjarak ribuan cahaya dari bumi
seolah tak pernah kembali
menjadikan hidup semenakutkan mati

29 November 2015
Dari adikmu, yang tak tahu diri.

P.s.: Seharusnya hari ini, tepat setahun yang lalu, entah bagaimana caranya, aku bertemu denganmu untuk terakhir kali.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kembali

Aku kembali. Entah diharapkan atau tidak sama sekali. Setelah melakukan perjalanan panjang, Mestinya ragaku cukup bersenang-senang. Tetapi dari kejauhan yang kulihat hanya kejenuhan. Aku jenuh, sayang. Aku ingin pulang. Aksaraku timbul tenggelam. Tetapi kurasa lebih baik diam. Kutahu mereka mengeluh tertahan. Sebab sia-sia berjejer menunggu antrean. Baiklah. Kukatakan aku kecewa. Tetapi aku sedang tidak ingin menyumpah. Jadi akan kuakhiri dengan sopan. Terima kasih, dan sekian. n.a. Maret, 2018

Hujan di Ujung Rindu

Jika hujan tiba di ujung senja, tetesnya akan berpadu dengan semburat jingga, membasahi jendela-jendela kaca; mempesona. Bahkan beberapa sengaja basah kuyup karenanya. Sedangkan hujan di ujung malam, hanya suaranya yang akan terdengar dengan aroma tanah yang memabukkan, meski kebanyakan meringkuk kedinginan. Tetapi kali ini hujan turun di ujung rindu, mengalir dari pelupuk mataku, menghadirkan setitik sendu, yang sisanya menjadi pelangi kelabu, sebab sesuatu yang hilang dalam kalbu. n.a. Juli, 2017.

Perjalanan di Bus Kota

dari dalam bus kota yang membuat sedikit pengar, ia menatap kaca jendela dengan nanar. baginya, jalanan sepanjang kota ini adalah kenangan ya ng samar. ia buru-buru memasang penyuara telinga sebab bising membuatnya gusar. namun senarai lagu sembilu favoritnya menguar, berdengung di telinganya dengan gahar dan menunjang imajinasi sedihnya yang liar. celakanya, bising itu beralih ke kepalanya. menghidupkan kembali memori yang mati suri dari setiap sudut kota, meski tanpa seseorang yang menciptakan kenangan itu bersamanya. alih-alih mengganti lagu yang bergumam lirih, ia justru membiarkan ulu hatinya merasakan pedih. memeluk segala pilu tanpa pamrih, sembari tersenyum dengan matanya yang sedih. n.a 2021